Tiongkok ‘bingung’ Soal Yuan

0
1693
A U.S. $100 banknote is placed next to 100 yuan banknotes in this picture illustration taken in Beijing October 16, 2010. The United States fired the first shot in the currency war and the rest of the world must be on guard for its deliberate strategy to devalue the dollar, a Chinese economist said in an official newspaper on Thursday. REUTERS/Petar Kujundzic (CHINA - Tags: BUSINESS IMAGES OF THE DAY)

Lingkarannews.com- Pemerintah Tiongkok masih kesulitan untuk menyesuaikan antara dorongan reformasi ekonomi serta membebaskan perdagangan yuan dan membatasi arus keluar modal dalam jumlah besar. Modal berlarian dari Tiongkok karena dipicu kekhawatiran terhadap kondisi perekonomiannya.

Komunikasi yang kurang dari otoritas Tiongkok memicu ketakutan di kalangan pasar finansial.

masalah runyam tersebut mewakili apa yang disebut ‘Trinitas Mustahil’, yakni ketika penguasa Partai Komunis Tiongkok berusaha mengendalikan nilai tukar dan kebijakan moneter, tapi pada saat yang sama menjadikan pergerakan arus modal lebih bebas.

Menurut Bloomberg Intelligence, dana sekitar US$ 1 triliun meninggalkan Tiongkok tahun lalu. Pada Desember 2015 saja, arus modal keluar dari negara itu hampir US$ 160 miliar.

Kas yang kembang kempis mencerminkan kekhawatiran tentang perekonomian Tiongkok, dengan latar belakang volatilitas di pasar saham dan mata uang. Situasi yang telah menyebabkan para investor maupun penabung untuk melepaskan yuan, juga dikenal sebagai renminbi.

“Arus deras modal yang meninggalkan Tiongkok baru-baru ini terutama didorong oleh makin besarnya keraguan bahwa bank sentral akan terus memenuhi janjinya untuk menjaga stabilitas renminbi,” kata Mark Williams, kepala ekonom Capital Economics untuk Asia.

Pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, baru-baru ini, investor miliarder dari AS George Soros mengatakan kepada Bloomberg TV, bahwa perekonomian Tiongkok yang pertumbuhannya melambat ke level terendah dalam 25 tahun sedang menuju lebih banyak masalah.

“Sebuah hard landing praktis tidak dapat dihindari,” kata, menyitir pada ke deflasi dan penumpukan utang sebagai pemicu perlambatan di Tiongkok.

Pernyataannya membuat marah media Tiongkok, yang menuduhnya menyatakan perang terhadap yuan. Soros, yang masih dipersalahkan beberapa negara karena kontribusinya terhadap krisis keuangan Asia pada 1997, pada 1990-an memimpin para spekulan yang bertaruh melawan Bank of England (BoE), ketika berusaha mempertahankan peg pound namun kemudian gagal.

Yuan sejak awal Januari 2016 telah melemah sebesar 1,3% terhadap dolar AS dan sepanjang 2015 merosot lebih dari 4,5% terhadap greenback. Pemerintah Tiongkok tetap memproteksi pergerakan yuan, sehingga hanya bisa naik atau turun 2% terhadap dolar AS setiap hari dari nilai tengah yang ditetapkan oleh PBoC.

Tapi setelah devaluasi mengejutkan pada Agustus tahun lalu -sebuah langkah yang dimaksudkan untuk membawa nilai tukar yuan lebih dekat ke nilai pasar- yuan terseret oleh arus keluar modal besar-besaran dari Tiongkok.

Warga Tiongkok diizinkan mengonversi yuan ke dolar AS maksimal setara US$ 50 ribu setiap tahunnya. Tapi banyak yang mencari cara untuk menghindari batasan tersebut. Metode yang populer adalah dengan meminjam kuota orang lain, seperti dari anggota keluarga.(AFP)

(ADW/NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY