Thomas Jefferson, Al Qur’an dan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat

0
3216

Lingkarannews.com – Jakarta – Ada benang merah antara sejarah kemerdekaan Amerika Serikat dengan Islam: salah satunya dibuktikan melalui Thomas Jefferson dan Alquran miliknya.

Fakta tersebut menyeruak pada 2006 lalu. Kala itu, Keith Ellison terpilih sebagai anggota Kongres AS dari negara bagian Minnesota. Politisi Partai Demokrat itu menjadi muslim pertama yang bergabung dalam lembaga legislatif tersebut. Saat pengambilan sumpah, ia menggunakan Alquran dari perpustakaan Thomas Jefferson — pencetus Deklarasi Kemerdekaan AS.

Keputusannya itu menjadi kontroversial. Dan, orang-orang pun bertanya-tanya, bagaimana bisa Bapak Pendiri AS itu punya salinan Alquran?

Thomas-Jeffersons-Quran Inside “Aku sudah lama tahu bahwa Thomas Jefferson memiliki (Salinan) Al quran, namun perhatian media terarah pada anggota Kongres yang menggunakannya dalam pengambilan sumpah. Aku tak mengira Alquran itu selamat,” kata dia, seperti dikutip dari situs 15 Minutes History yang dikelola oleh The University of Texas, Austin, negara bagian Texas, Amerika Serikat

Sebagian besar buku-buku dan dokumen milik Thomas Jefferson hancur saat Inggris membakar Capitol and the Library of Congress pada 1814.

Dalam bukunya ‘Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders’, Spellberg menggambarkan bagaimana Alquran diduga kuat mempengaruhi ide-ide Presiden ke-3 AS tentang pluralitas dan kebebasan beragama. Spellberg menambahkan, saat ini orang cemas dan curiga dengan ajaran Islam, “kebanyakan karena orang-orang belum memahami Islam dengan baik.” Pun pada masa itu di Amerika dan Eropa. Citra Islam pada Abad ke-18 justru diwakili para perompak.

“Namun Jefferson merasa ingin tahu tentang agama tersebut (Islam) dan aturannya, itu mengapa ia membeli Alquran.”

Keputusannya membeli salinan Alquran mungkin juga dilatarbelakangi bidang studinya. Kala itu Jefferson belajar ilmu hukum di College of William and Mary. Ia membeli salinan terjemahan Alquran yang ditulis George Sale di sebuah toko buku di Duke of Gloucester Street, London dan mengirimkannya ke Virginia. Buku itu adalah terjemahan Alquran terbaik ke Bahasa Inggris pada masanya.

Desakan Amerika Serikat menjadi negara yang hanya mengakui satu agama ( National Religion ) : Kristen Protestan, menyeruak kala itu. Bahkan, Katolik — yang dianggap mengakui kekuatan asing lewat Paus dan Vatikan dianggap ‘orang luar’. Apalagi umat Islam dan Yahudi. Dan, pada 1788, saat negara-negara bagian akan meratifikasi Konstitusi, masalah identifikasi non-Kristen adalah bagian dari perdebatan.

Salinan Konstitusi USNamun, seperti dikutip dari situs Oxford Islamic Studies, terdapat kesamaan antara pernyataan merdeka Amerika Serikat dengan Piagam Madinah. Dalam Amandemen Pertama Konstitusi-nya, Amerika Serika sebagai Negara yang baru berdiri menjamin kebebasan beragama. Dan salah satu isi Piagam Madinah adalah terkait pluralitas dan persatuan melawan ancaman dari luar, juga perlindungan bagi kaum minoritas.

Tak diketahui pasti apakah Jefferson familiar dengan Piagam Madinah yang disusun oleh Nabi Muhammad pada tahun 622 Masehi. Diduga kuat pemikirannya dipengaruhi terjemahan ayat-ayat Alquran tentang pluralisme. Salah satunya, Surat Al Baqarah ayat 62 : “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Surah Al Baqarah ayat 62 ini yang mendasari Jefferson untuk menolak konsep negara dengan satu agama yang banyak didesakkan oleh rakyat amerika yang menginginkan kemerdekaan saat itu.

Dan bagi Jefferson dan pendiri AS lainnya, meski hanya minoritas, menyertakan muslim berarti membuka pintu bagi semua umat beragama: pemeluk Yahudi, Katolik, dan lainnya. “Jika muslim dikesampingkan, itu berarti tak ada prinsip-prinsip universalitas bagi semua pemeluk agama di AS.”

Jefferson, George Washington, dan para pendiri AS yang memproyeksikan populasi AS di masa depan. Ironisnya, mereka tak mengetahui bahwa kala itu sudah ada pemeluk Islam di AS yang sebagian besar adalah para budak, yang dibawa dari Afrika barat dengan paksa.

Tidak banyak banyak terpublikasi, bahwa pada 9 Desember 1805, Thomas Jefferson menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama (ifthar) di AS, yang digelar di Gedung Putih. Acara tersebut tak direncanakan sebelumnya. Kala itu, ia menerima utusan dari pemerintah Tunisia. Mengetahui tamunya sedang berpuasa, Jefferson memundurkan pertemuan dan acara makan bersama hingga waktu Matahari terbenam.

Sejauh mana pengaruh Alquran pada diri Thomas Jefferson tak pernah diketahui secara pasti. Namun yang jelas, pengetahuannya tentang Islam, dan agama lainnya, didukung pendidikan yang didapat dari College of William and Mary, dan dipengaruhi pemikiran Abad Pencerahan (Enlightenment) mempengaruhinya dalam penyusunan nilai-nilai hakiki yang dianut dan dibanggakan Amerika Serikat saat ini.

Barbagai Sumber

( ADW/NDI )

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY