Social Media dan Impotennya Gerakan Politik Jalanan

0
999

Lingkarannews.com- Norris (2012) mengatakan manusia jejaring sosial sebagai kekuatan penetrasi sekaligus penunjang kolektif bahwa ada kebutuhan yang menggerakkan lingkungan politik dan demokrasi.

Kini keberadaan social media bisa menjadi sebuah gerakan politik baru, Perubahan politik sangat tergantung pada perkembangan lingkungan dan perubahan sosial media. Hal tersebut dapat di ukur dengan protes yang di lakukan oleh orang lewat media yang menempuh angka data perkiraan salah satu yang terjadi di Palestina

Dalam kungkungan dan pengawasan pemerintah Israel, para pemuda Palestina dan para pejuang nya memanfaatkan teknologi social media untuk menyebarkan kondisi dan situasi terkini kepada dunia

Begitupula yang terjadi di Mesir, para pemuda anti pemerintahan rezim As sisi dan gerakan Ikhwanul Muslimin menggunakan teknologi social media untuk memberitahukan situasi dan kondisi politik yang terjadi

Kemajuan teknologi handphone serta kecepatan internet di dunia; membuat seolah dunia menjadi kecil dan mudah terkoneksi

Informasi peperangan dari satu wilayah terpencil di Suriah dalam hitungan detik bisa diterima oleh siapa pun dan dimanapun posisinya didunia dengan satu syarat ada jaringan Internetnya

Tengok pula, bagaimana dulu di India, China dan Kuba yang meminta akses internet dibuka di negeranya; agar semua informasi dari belahan dunia manapun dapat mereka ketahui, serta informasi dari negara mereka bisa disebar keseluruh orang di dunia

Social Media kini telah berubah menjadi gerakan politik dalam satu kebutuhan untuk berdemokrasi; memberikan pandangan pandangan serta pemikiran diri untuk menjangkau seluruh negeri di dunia tanpa ada batasan

Dan akibat begitu besarnya kekuatan social media, banyak pemerintah negara di dunia telah melakukan kebijakan untuk mengawasi dan mengendalikan atas penggunaan social media

Seperti yang terjadi di China, Mesir, Venezuela dan yang terakhir Brasil; Pemerintah negara yang disebut kuatir akan kekuatan social media yang tanpa batas, informasi tentang gerakan perubahan dan pola pikir perubahan selalu dimulai dari social media karena sifat social media yang menghubungkan orang per orang, orang ke lembaga, orang ke negara dan lainnya

Dan kini hal tersebut bisa saja terjadi di Indonesia; melihat kalkulasi hitungan gerakan anti kepada penguasa akibat ketidakadilan yang terjadi, Masyarakat Indonesia kini memiliki saluran untuk demokrasi berbicara atas pikir dan caranya sendiri melalui Social Media

Tetapi ada sebuah ironi, social media ibarat tempat untuk ‘mastrubasi’ politik massal, dimana berteriak dan berkata sepuasnya setelah usai dan puas langsung diam dan loyo kembali

Ibarat dua sisi mata uang, satu sisi menguntungkan untuk menyebarkan pemikiran diri dan berharap sebuah gerakan tetapi disisi lain merugikan karena ‘menumpulkan’ kegarangan untuk sebuah perlawanan

Berperang di dunia maya, impoten didunia nyata; ironi

(Adityawarman @aditnamasaya)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY