Revolusi Mental Bagi para Pendukung LGBT

1
1722

Lingkarannews.com- Era keterbukaan kebudayaan dan liberalisasi keyakinan akan Ketuhanan dengan jargon sekulerisme dimulai sejak era revolusi Perancis

Mulai dari Era Revolusi Perancis pada 1791 ketika sekularisme mulai mendapat tempat sementara peran agama terutama gereja tidak lagi relevan dalam sosial, politik dan ekonomi hingga jatuhnya pemerintahan Turki Uthmaniyyah, masyarakat Barat yang pada awalnya berada dalam zaman kegelapan mulai membebaskan diri dari ikatan beragama. Tindakan ini telah melahirkan satu masyarakat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang menjadikan kehendak manusia tanpa batasan (humanisme) sebagai tuhan sampai munculnya golongan yang mulai berani memperjuangkan orientasi seks menyimpang (LGBT) berdalilkan kebebasan berkendak dan hak asasi manusia. Mulai dari sinilah penyakit moral ini mulai tersebar ke seluruh dunia yang mana negara-negara Islam turut sama menjadi sasarannya.

Semua dimulai dengan kalimat REVOLUSI

Apa itu revolusi? Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat.

Sementara pengertian Revolusi dengan kebebasan berprilaku serta berekspresi tanpa aturan agama seperti yang diperjuangkan pada revolusi Perancis; sama kah dengan revolusi mental yang di gaungkan di negeri ini?

Mengutip pengertian Revolusi Mental versi Romo Benny yaitu merujuk pada revolusi kesadaran! Perubahan mendasar menyangkut kesadaran, cara berpikir dan bertindak sebuah bangsa besar. Revolusi mental dari sesuatu yang negatif menuju positif!

Revolusi mental dari sesuatu yang negatif menuju positif

Bukankah prilaku gerakan LGBT yang diperjuangkan pada Revolusi Perancis bertentangan dengan Revolusi Mental yang digaungkan di Indonesia

Harusnya, para pendukung serta pengidap prilaku LGBT memahami gerakan revolusi mental yang di gaungkan oleh pemerintah saat ini

Merevolusi mental dari sesuatu yang negatif menuju positif, dan bukan sebaliknya

Artinya, yang sudah ada sebagai aturan positif di negara ini, jangan dicari cara untuk dirubah menjadi budaya yang negatif untuk membenarkan sebuah gerakan; terkait hal mengenai LGBT (Lesbian, Gay Biseksual dan Transgender)

Pimpinan Pusat  Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) melalui Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri (RSP) memberikan pernyataan terkait fenomena LGBT yang saat ini ramai diperbincangkan.

RSP PDSKJI menyatakan, Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) masuk dalam kategori Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa (ODMK).

“Kategori ini merujuk pada UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa,” jelas Ketua Seksi RSP PDSKJI Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH

Sebelumnya, Seksi RSP PDSKJI pada tahun 2015 beberapa kali menghadiri pertemuan di Ormas Perempuan Islam dan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak bersama beberapa Ormas Keagamaan Perempuan Lintas Agama tentang fenomena LGBT.

“Hasil dari pertemuan itu terwujud kesepakatan bahwa semua perwakilan Ormas Keagamaan menolak adanya pernikahan sejenis,” terang dr. Fidiansjah.

Melihat fenomena LGBT dan dikaitkan dengan kampanye revolusi mental baik versi presdien Jokowi ataupun versi romo benny; seharusnya bisa menjadi sebuah solusi kedepannya

Para pendukung dan pengidap prilaku LGBT harus segera di revolusi mental kan, agar yang negatif bisa berubah menjadi positif kedepannya

Janganlah berharap, kebetulan saat ini; pemerintah mengkampanyekan revolusi mental; itu dijadikan sebuah alasan pembenaran ala revolusi perancis untuk kebebasan bersikap berprilaku menyimpang diluar aturan agama dan negara

Harusnya, revolusi mental adalah revolusi yang bertolak belakang bahkan dapat menjadi katalisator revolusi perancis

Perubahan dari yang negatif menjadi yang positif

LGBT harus disembuhkan dengan bantuan partisipasi dari negara, sebagai bagian penyelamatan nasib generasi penerus bangsa kedepannya

Salah satunya dengan jalan meRevolusi Mental kan pendukung dan pengidap prilaku LGBT di tanah air

(ADW/NDI)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY