Peran Teknologi Informasi Dalam Perang Hibrida

0
633

Lingkarannews.com l Jakarta – Perang hibrida merupakan istilah yang masih asing di telinga kita. Namun sebenarnya hal ini sudah akrab bagi TNI karena konsep ini sebenarnya merupakan konsep “perang rakyat” yang menggunakan segala daya upaya dan sumber daya agar tidak dapat dikalahkan oleh lawan, perbedaannya hanyalah penggunaan senjatanya yang meliputi nuklir dan teknologi cyber. Konsep perang inilah yang masih diyakini kehebatannya oleh banyak kalangan terutama oleh para pendahulu kita. Istilah ini sebenarnya apabila dirunut berawal dari metafora untuk menggambarkan tuntutan medan perang modern oleh Jenderal (Mar) Charles C. Krulak tentang tantangan yang dihadapi oleh marinir Amerika Serikat (AS) ketika bertugas di “negara gagal” seperti Somalia dan bekas Yugoslavia. Krulak menyadari bahwa medan perang masa depan adalah: terjadi di perkotaan, sifatnya asimetris, situasinya sulit membedakan antara pejuang dan non kombatan, dan persenjataan canggih sudah tersedia dengan mudah untuk semua pihak. Krulak menyebutnya dalam istilah perang tiga blok (Three Block War), “Anda berjuang seperti iblis pada satu blok, Anda berbuat baik menyerahkan bantuan kemanusiaan di blok berikutnya, dan Anda harus berjuang untuk tetap menjaga supaya kedua faksi tidak bertikai di blok yang berikutnya”. (Marine Corps Gazette, edisi 1999).

Apapun bentuk perangnya, yang harus selalu diingat adalah bahwa yang menjadi musuh adalah manusia, karena manusia selalu mempunyai kemampuan kreatif untuk tidak dapat ditaklukkan. Akibatnya, walaupun secara militer konvensional mudah ditaklukkan namun selalu saja musuh tersebut siap untuk berperang walaupun tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Keunggulan konvensional satu negara akan menciptakan ide baru bagi negara-negara dan aktor non-negara untuk bergerak keluar dari modus perang konvensional dan mencari kemampuan lain yang merupakan kombinasi dari teknologi dan taktik untuk mendapatkan keuntungan. Oleh AS, kelompok ini dikenal sebagai penantang tidak teratur (irregular challengers) yang meliputi aktor-aktor yang bermain dalam terorisme, pemberontakan, perang terbatas, perang gerilya, dan perang narkoba. Kelompok-kelompok ini akan mengeksploitasi keuntungan taktis pada waktu dan tempat yang mereka pilih sendiri, dan memperbesar keuntungan mereka melalui media dan perang informasi, untuk melemahkan AS. Ini lah yang disebut oleh mereka dengan perang hibrida. Perang jenis ini tidak bisa dimenangkan dengan hanya berfokus pada kekuatan teknologi, namun juga dengan memerhatikan aspek sosial budaya dan aspek lain dalam masyarakat. (Proceedings Magazine, Issue: November 2005 Vol. 132/11/1,233 Future Warfare: The Rise of Hybrid Wars oleh Letnan Jenderal James N. Mattis, USMC, dan Letkol (Purn) Frank Hoffman, USMCR ).

Aspek sosial budaya dan aspek lain dalam masyarakat mulai mendapatkan perhatian di kalangan militer Amerika, oleh karenanya untuk menghadapi perang hibrida ini mereka mengembangkan konsep yang disebut sebagai Human Terrain Systems (HTS). Konsep HTS ini pertama kali dikembangkan oleh anthropolog Montgomery McFate pada tahun 2005, sebagai respons terhadap kesenjangan antara komandan dan staf tentang pemahaman terhadap penduduk dan budaya setempat, terutama ketika melakukan invasi ke Irak dan Afghanistan. HTS ternyata bukan hal yang asing bagi TNI AD karena apabila dipadankan tidak lain dan tidak bukan adalah konsep pembinaan teritorial.

Walaupun perang jenis ini tidak bisa dimenangkan dengan hanya berfokus pada teknologi saja, namun peran teknologi / alutsista dalam satu perang masih tetap dominan seperti misalnya penggunaan Teknologi Informasi dalam memperbesar kemampuan perang informasi dan cyber war. Oleh karena itu, menghadapi kemungkinan ancaman perang hibrida tersebut, TNI AD harus mampu merespon dan segera beradaptasi dengan situasi yang berkembang khususnya di bidang teknologi informasi agar dapat mengantisipasi serta mengatasinya secara lebih cepat dan tepat.

Apa itu Perang Hibrida

Sejauh ini, masyarakat awam lebih sering mendengar perang Asimetris dibanding dengan perang Hibrida. Apabila kita mendengar kata hibrida, maka bayangan kita langsung teringat dengan masalah pertanian, karena istilah ini yang paling sering terkenal dulu-dulunya selalu terkait dengan kelapa hibrida. Namun ternyata istilah hibrida juga berlaku dalam dunia perang. Perang Hibrida adalah model perang masa depan, dengan segala, strategi, elemen, fungsi dan tujuannya.

Untuk lebih memahami tentang istilah hibrida ini, mari kita lihat beberapa definisi mengenai kata hibrida tersebut. Dalam istilah biologi, hibrida identik dengan heterozigot: setiap anak yang dihasilkan dari perkawinan dua individu secara genetik berbeda, artinya kombinasi antara gen yang berbeda. Dalam bidang elektronika, hibrida menggambarkan kombinasi dari produsen listrik dan sarana untuk menyimpan tenaga dalam media penyimpanan energi. Sistem hibrida, seperti namanya, menggabungkan dua atau lebih mode pembangkit listrik bersama-sama. Di bidang otomotif, mobil hibrida adalah mobil yang menggunakan energi dari listrik dan juga bisa dari bahan bakar fosil. Sedangkan di bidang komputer adalah merupakan gabungan antara kemampuan komputer analog dan komputer digital. Dengan demikian istilah hibrida intinya adalah merupakan gabungan dari beberapa hal yang berbeda, sehingga dengan demikian perang hibrida secara logika adalah penggabungan beberapa jenis perang yang meliputi perang konvensional dan inkonvensional.

Apabila kita ingin lebih tahu tentang definisi Perang Hibrida dan bertanya kepada Google dengan mengetikkan “define:hybrid war”, karena belum ada dalam kamus umum maka jawabannya adalah definisi versi Wikipedia yaitu “strategi militer yang memadukan antara perang konvensional, perang tidak teratur dan cyber warfare”. Selain itu, perang hibrida digunakan untuk menggambarkan serangan senjata nuklir, biologi dan kimia, alat peledak improvisasi dan perang informasi.

Lebih lanjut apabila kita mengacu pada pendapat dari para ahli yang mendalami teori mengenai perang hibrida maka kita akan mendapatkan hal-hal yang kurang lebih sama. Salah satunya adalah Frank Hoffman yang mendefinisikan perang hibrida sebagai setiap musuh yang menggunakan secara bersama dan mengkombinasikan senjata konvensional, perang tidak teratur, terorisme dan cara kriminal dalam pertempuran untuk mencapai tujuan politis (Conflict in 21st Century: The Rise of Hybrid Wars)

Sedangkan pengertian yang tertulis dalam wikipedia dinyatakan bahwa “perang hibrida ~ hybrid war, yaitu sebuah strategi militer yang memadukan antara perang konvensional, perang yang tidak teratur dan ancaman cyber warfare, baik berupa serangan nuklir, senjata biologi dan kimia, alat peledak improvisasi dan perang informasi”.

Lalu bagaimana kita mengartikan perang hibrida ini dalam konteks yang mudah dimengerti? Untuk memudahkan pemahaman kita barangkali ada contoh yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat yaitu perang di medan Kurusetra dalam ceritera pewayangan yang melibatkan pihak Pendawa dan Kurawa. Perang Kurusetra merupakan perang 18 hari yang berakhir dengan kemenangan pihak Pendawa, merupakan gambaran perang hibrida yang rasanya lebih mudah dimengerti. Perang tersebut meliputi perang konvensional karena mempunyai aturan perang dan dilakukan dalam formasi-formasi tertentu, senjata yang digunakan pun deskripsinya sudah mengarah kepada senjata nuklir saat ini (hanya saja saat itu hanya berupa panah, gada, pedang, cakra dan sejenisnya namun deskripsi ketika senjata itu digunakan efeknya sama dengan efek senjata nuklir saat ini), perang irreguler (menjadikan Srikandi tameng padahal bukan regular forces), asimetrik (Gatotkaca sendirian melawan pasukan yang besar) serta perang informasi (lebih tepatnya disinformasi dan rekayasa informasi dengan menyebarkan informasi terbunuhnya gajah bernama Aswatama yang merupakan faktor penentu kemenangan perang). Secara umum dapat disimpulkan bahwa perang hibrida intinya adalah gabungan berbagai jenis perang yang biasanya dilakukan oleh pihak yang lebih lemah untuk melawan pihak yang lebih kuat secara konvensional. Inilah barangkali gambaran sederhana yang lebih mudah dimengerti tentang apa itu perang hibrida. Masih banyak lagi ilustrasi perang Hibrida dari cerita tradional, ataupun cuplikan sejarah nusantara yang bisa diambil.

Perang hibrida menggunakan kombinasi metode militer dan nonmiliter di masa damai untuk mencapai tujuan militer tradisional (misalnya, kontrol atau penaklukan teritorial), dan dengan demikian mengubah “fakta di lapangan” tanpa memicu konflik yang sebenarnya. Dalam karyanya yang baru-baru ini diterbitkan, Mastering the Gray Zone: Understanding a Changing Era of Conflict, Michael Mazarr, seorang ilmuwan politik dan mantan pembantu dekan di National War College, mengungkapkan bahwa perang hibrida masa damai mencapai tujuan militer, yakni kontrol medan perang. Dia menegaskan bahwa “tujuan perang hibrida adalah memenangkan kampanye konklusif melalui penggunaan kekuatan dan beberapa tingkat kekerasan, atau mempersiapkan semacam aksi militer yang menentukan.”

Apabila dicermati ternyata para penulis Amerika ketika membicarakan perang hibrida secara khusus adalah membahas tentang kasus-kasus perang di Irak, Afganistan dan Libanon yang bisa dipastikan ini adalah konsep perlawanan atau perjuangan yang mengusung konsep gerilya, perang kota, asimetris, menggunakan persenjataan canggih, dan perang informasi dengan memanfaatkan segala upaya untuk dapat bertahan melawan agresor dan mengusirnya keluar dari negaranya. Apabila mengacu pada hal ini maka situasinya kira-kira kembali sama ketika Indonesia mengalami perjuangan fisik yang tidak lain adalah people’s war yang merupakan perang inkonvensional dan tidak teratur (irregular) namun sesuai kondisi saat ini dengan kesulitan yang lebih tinggi karena sudah memanfaatkan teknologi informasi seperti yang digunakan dalam cyber war. Hal ini selaras dengan apa yang digambarkan oleh Seth G. Jones melalui The Future of Irregular Warfare yang menyatakan bahwa kelompok insurjen dan teroris memanfaatkan internet untuk berkomunikasi, mendistribusikan propaganda, merekrut anggotanya dan tugas-tugas lainnya yang menambah kompleksitas perang tersebut (RAND Corporation, 2012)

Peran TI dalam Perang Hibrida

Pandangan umum menyatakan bahwa militer profesional adalah militer yang berperang secara konvensional, didukung oleh alutsista yang modern dengan daya tempur yang tinggi, bertempur dalam jenis perang tertentu, dinilai sudah kurang relevan lagi. Hal ini disampaikan oleh mantan Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates “The old paradigm of looking at potential conflicts as either regular or irregular war, conventional or unconventional, high-end or low is no longer relevant.” Saat ini mereka menghadapi perang hibrida yang untuk memenangkannya memerlukan militer dengan kemampuan yang sangat fleksibel untuk mengatasi berbagai spektrum konflik. (Defense Information Technology Acquisition Summit, 12 November 2009)

Perang Hibrida - 2Dalam perang hibrida, TI memainkan peran yang penting. Teknologi ini mampu memberikan informasi kepada prajurit secara real time tentang ancaman yang mereka hadapi dan memberi solusi bagi para prajurit tentang apa yang harus dilakukan. Bahkan saat ini mereka secara individual juga dapat langsung mengakses informasi itu melalui perangkat genggam (handheld) yang mereka bawa. Disamping keunggulannya, karena kemudahan pengoperasiannya dalam mendukung proses pengambilan keputusan, Teknologi informasi juga dapat digunakan dalam mendukung konsep penaklukan tanpa melaksanakan perang secara fisik yaitu menggunakan konsep perang informasi melalui sarana media massa, mailing list, dan bahkan sekarang ini menggunakan apa yang disebut sebagai media sosial (social media). Media sosial, seperti Twitter, Facebook, BB Messenger, WhatsApp dan sebagainya, merupakan satu sarana yang cukup ampuh dalam rangka mendukung perang hibrida, bahkan dari pengalaman akhir-akhir ini di Timur Tengah dengan Arab Spring nya yaitu media sosial mampu membuat revolusi di Tunisia, Mesir, Libya dan sekitarnya. Gambar berikut ini menunjukkan bahwa media sosial mempunyai kecepatan yang tinggi dalam menyampaikan informasi dengan sangat efektif.

Perang dunia maya adalah karakteristik utama invasi Rusia ke Republik Georgia pada tahun 2008, dan taktik tersebut digunakan lagi dalam invasi Krimea pada tahun 2014. Selama invasi Rusia dan aneksasi Krimea, Ukraina mengalami “serangan dunia maya yang canggih dan terkoordinasi yang melumpuhkan jaringan komunikasi dan membanjiri situs web pemerintah,” sebagaimana dilaporkan oleh Channel 4 News Britania Raya pada Mei 2014. Baru-baru ini, peretas yang berbasis di Rusia melakukan serangan canggih pada jaringan listrik Ukraina pada Desember 2015 sehingga memutus sambungan listrik untuk puluhan ribu pelanggan di Ukraina tengah dan barat. Dinas keamanan negara SBU Ukraina menyalahkan dinas keamanan Rusia untuk malware yang digunakan dalam serangan itu, demikian yang dilaporkan Reuters. Kemudian, investigasi Tim Respons Darurat Dunia Maya Sistem Kontrol Industri Departemen Keamanan Dalam Negeri A.S. mengonfirmasi bahwa serangan ini adalah serangan dunia maya, yang dikaitkan oleh ahli keamanan dunia maya dengan kelompok peretas Russian Black Energy, demikian yang dilansir Reuters pada Februari 2016.

Tiongkok sekarang sepenuhnya menganggap dunia maya sebagai komponen operasi militer, sebagaimana yang terungkap dalam Buku Putih Pertahanan tahun 2015, yang menyatakan bahwa “Tiongkok akan mempercepat pengembangan pasukan dunia maya,” lapor surat kabar Stars and Stripes pada Mei 2015. Baru-baru ini, pada Oktober 2015, Bloomberg News menyiarkan pengumuman Akademi Sains Militer PLA bahwa PLA mengonsolidasikan berbagai unit dan kemampuan perang dunia maya Tiongkok menjadi komando militer tunggal di bawah Komisi Militer Pusat.

Serangan dunia maya meningkat di seluruh dunia, dan paling mengkhawatirkan di kawasan Indo-Asia-Pasifik. Pada Februari 2015, Jane’s Defence Weekly melaporkan statistik yang menunjukkan bahwa selama tahun 2013-2014, persentase serangan dunia maya di dunia yang berasal dari kawasan Indo-Asia-Pasifik berkisar dari 64 persen hingga 70 persen, dengan prediksi bahwa “ruang lingkup ancaman dunia maya … [dan] ancaman serangan dunia maya tetap berada pada tingkat yang cukup tinggi.”

Maka sangat beralasan sekali apabila TI termasuk salah satu dalam elemen strategi perang masa depan. Siapa yang menguasai teknologi informasi, ia yang akan memenangkan peperangan, baik itu perang dalam arti kata sebenar-nya, maupun perang dalam arti lain, seperti perebutan pengaruh.

( Berbagai Sumber )

(ADW / NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY