Mengenal Tembakau GORILA: Semakin Terkenal Semakin Ingin Banyak Yang Ingin Tahu Dan Ingin Merasakan

0
587

Lingkarannews.com Jakarta- Sekilas bentuknya tidak berbeda dengan tembakau jenis lainnya. Tembakau Super Cap Gorila atau biasa disebut Tembakau Kingkong ini hanyalah tembakau biasa jika tidak dicampur dengan synthetic cannabinoids (AB-CHMINACA) bersama bahan kimia apesiminika.

Image result for tembakau gorila
Synthetic cannabinoids atau biasa disebut marijuana sintetis/ ganja sintetis merupakan campuran jenis-jenis narkoba yang diimpor masuk ke Indonesia. Narkoba ini muncul sejak tahun 2007 dan terkenal dengan nama ekstasi herbal atau pun pensil hiperasin. Di luar negeri narkoba jenis ini dikenal dengan istilah Spice dan K2.

Sebenarnya dalam dunia kedokteran, cannabinoids ini diperlukan untuk terapi memperlambat proses neurodegenerasi pada penyakit alzheimer. Selain itu juga berguna untuk pengobatan stres karena senyawa cannabinoids bekerja cepat setelah menembus blood barrier yaitu filter darah yang masuk ke otak.

Image result for tembakau gorila
Disebut marijuana sintetis/ ganja sintetis karena zat ini mengandung tetrahydrocannabinol (THC) seperti tanaman marijuana/ ganja. Hanya saja sumbernya bukan dari ekstraksi marijuana/ ganja melainkan melaui proses kimia di laboratorium.

Lantas apa kaitannya tembakau ini dengan gorila? Saat mengisap tembakau ini yang sudah dilinting seperti rokok, seseorang merasa akan seperti ditimpa oleh seekor gorila besar. Efeknya orang tersebut seperti tidak bisa bergerak dan menimbulkan halusinasi. Orang yang baru coba-coba ngegors (istilah untuk mengisap tembakau gorila) biasanya akan panik karena tubuhnya jadi berat sedangkan pecandu yang sudah terbiasa akan muncul perasaan bahagia, rileks dan bahkan suka ketawa-ketawa sendiri.

Efek buruk yang dihasilkan marijuana sintetis/ ganja sintetik ini dapat mengancam nyawa manusia antara lain perasaan cemas yang sangat tinggi, detak jantung sangat cepat dan tekanan darah tinggi, mual dan muntah, kejang otot dan tremor, halusinasi intens dan gangguan psikotik, dan perasaan ingin bunuh diri dan atau melakukan tindakan yang berbahaya. (Sumber)

Akibat Ramainya Pemberitaan, Menimbulkan Rasa Ingin Tahu Hingga Ingin Mencoba Merasakan Tembakau Gorila

Pemberitaan terkait peredaran tembakau gorila secara tidak langsung menjadi ajang pemasaran gratis dari peredaran tembakau gorila itu sendiri, berawal dari peredaran melalui aplikasi social media, hingga cara penjemputan ojek online, kini peredaran tembakau Gorila justru banyak dikarenakan alasan ingin tahu dan merasakan

Seperti diketahui, peredaran tembakau gorila awalnya banyak dikenal dikalangan mahasiswa dan pekerja, yang dikuatirkan adalah akibat ramainya pemberitaan membuat segmen pasar atas barang yang termasuk jenis narkotika tersebut, kini menjadi terkenal dan memancing segmen pasar anak muda hingga anak sekolahan

Masyarakat dengan segmen anak muda, dengan rasa ingin tahunya justru kini terdorong ingin merasakan narkoba jenis terbaru ini yaitu Tembakau gorila, ada baiknya penyuluhan penyuluhan banyak dilakukan di sekolah sekolah yang ada untuk mengantisipasi ketidaktahuan para anak muda atas bahayanya tembakau gorila

Peredaran tembakau gorila ini lebih banyak melalui media sosial seperti instagram dan twitter. Aktivitas jual beli tembakau dilakukan melalui pesan singkat tanpa bertatap muka langsung. Harga tembakau merk Gorilas dibanderol Rp400 ribu per 10 gram. Konsumennya dominan dari kalangan anak muda terutama mahasiswa dan pelajar.

Sayangnya penindakan terhadap peredaran Narkoba jenis baru ini masih terkendala payung hukum. Hingga saat ini Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang mengatur tentang Narkotika belum mencantumkan synthetic cannobinoids sebagai salah satu jenis narkotika ataupun prekursor dalam lampirannya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak tinggal diam dalam melihat realitas tersebut. Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang dipimpin oleh Komjen (Pol) Budi Waseso tersebut telah mengusulkan kepada kementerian kesehatan agar ganja sintetis ini masuk dalam lampiran UU No 35 Tahun 2015.

Sampai saat ini BNN telah menemukan 36 narkotika dan obat-obatan adiktif jenis baru yang telah beredar di masyarakat. Dari hasil uji Laboratorium BNN, ke-36 zat baru tersebut adalah New Psychoactive Substances (NPS) yang bisa disebut masuk dalam jenis narkotika jenis baru. Dari ke-36 NPS tersebut ada 18 jenis yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 13 Tahun 2014 yang masuk dalam kategori Golongan I.

Meski belum diatur oleh undang-undang tapi ada baiknya kita menjauhi pemakaian ganja sintetis ini. Efek adiksi yang ditimbulkannya akan membuat seseorang jadi sangat menderita. Kenikmatan yang ditawarkannya adalah palsu sedangkan penderitaan yang ditimbulkannya nyata, seperti ketiban gorila dan menjadi gila.

Adityawarman @aditnamasaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY