Menaruh Pengagum Helen Keller pada Urusan Agama, maka Jangan Kaget LGBT menjadi Bias

0
2437

Lingkarannews.com Jakarta- Polemik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terkait orasi kebudayaan pada acara Penghargaan Suardi Tasrif Award, dimana penghargaan tersebut diberikan khusus kepada organisasi Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (LGBTIQ Indonesia) dan IPT 65

Menteri Agama Lukman Saifuddin dalam orasi kebudayaannya menekankan keberagaman sebagai ciri bangsa Indonesia yang belakangan banyak terancam.

Menag Lukman juga mengapresiasi pemilihan kedua organisasi (LGBTIQ dan IPT 65) sebagai pemenang penghargaan.

“Memaknai award/penghargaan ini sebagai bentuk bahwa ada komunitas saudara-saudara sebangsa sesama kita yang memiliki situasi dan kondisi yang tidak sama dengan kita yang memerlukan perhatian atensi pengayoman tanpa harus mempersoalkan perbedaaan baik yang sifatnya filosofis atau yang kaitannya dengan agama,” kata Menag Lukman usai acara penghargaan.

Bagi mantan Peoject Manager Helen Keller Internasional 1995-1997, pola pikir ‘penerimaan’ atas LGBT adalah sebuah hal yang wajar; karena melihat Helen Keller sendiri dulunya adalah penganut okultisme dan Theosophist

Helen Keller adalah pencipta simbol El Diablo atau I LOve U Devil, salah satu simbol kaum Illuminati dan Freemasonry dunia

Ditambah gerakan LGBT adalah gerakan yang memang didukung besar besaran secara finansial oleh para Freemasonry untuk dilegalkan semua negara didunia bersamaan dengan pelegalan perkawinan sejenis

Peristiwa hingga menimbulkan polemik diatas, adalah hal yang wajar pasti terjadi; artinya dari seorang pengagum salah satu tokoh besar illuminati (Helen Keller), sementara gerakan LGBT adalah gerakan yang didukung kaum Freemasonry dan Illuminati dunia

 

Adityawarman @aditnamasaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY