Maha Benar KPK dengan Segala Aksinya

0
4051

Lingkarannews.com Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi atau dikenal sebagai lembaga satu satunya anti rasuah di Indonesia, kini seolah melupakan apa yang telah menjadi marwah dan khittah aslinya sebagai lembaga anti korupsi yang lepas dari segala hal tekanan dan intervensi politik dan kekuasaan

Keberadaan KPK memang sangat dibutuhkan di sebuah negara dimana Korupsi menjadi sebuah penyakit bangsa yang tiada pernah habisnya

Namun seiring berjalannya waktu, KPK berada dalam posisi dilematis politis akibat proses keterpilihan pimpinannya yang tak lebih produk politik kepentingan, hingga akhirnya membuat KPK tak lebih menjadi ‘senjata’ bagi sebuah kekuatan politik atau sejumlah kepentingan

KPK Masih dijadikan Tempat POLITIK SALING SANDERA

Memberikan tekanan secara politik kepada satu kekuataan dengan ‘menggunakan’ KPK hingga akhirnya politik saling sandera pun terjadi, publik selalu ingat bagaimana KPK memperlakukan kasus kasus besar seperti BLBI, Century dan Hambalang sesuai dengan kebutuhannya

Kebutuhannya dalam rangka ‘tekanan’ politik saling sandera dari satu kekuatan politik kepada kekuatan politik lainnya atau lebih dikenal dengan aksi pesanan

Hingga akhirnya publik melihat ada aksi tebang pilih dalam pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK selama ini

Politik Tebang Pilih Masih Dilakukan Oleh KPK

Menjadikan lembaga anti korupsi yang bebas dari kepentingan dan intervensi politik adalah sebuah cita cita mulai pembentukan lembaga bernama KPK

Namun, dilematis kekuasaan dan tekanan kekuasaan masih membuat KPK melakukan politik tebang pilihnya, ingatan tentang kasus kasus yang melibatkan lingkaran satu kekuasaan

Seperti Kasus Bus TransJakarta, kasus lahan rumah sakit sumber waras, kasus proyek reklamasi, semua seolah berakhir pada titik pelaku yang jauh dari pelaku yang melakukan kebijakan dan pengambil keputusan yang membuat kasus tersebut bisa terjadi

KPK seolah tidak mau menyentuh aktor aktor intelektual yang secara fakta pengadilan dikatakan dan sering disebut terlibat secara langsung, KPK seolah memiliki alasan sang aktor adalah orang dalam lingkaran kekuasaan maka sulit untuk disentuh oleh hukum

Sementara Negara ini adalah negara hukum, semua warga negara baik dia seorang presiden sekalipun atau seorang pemulung sekalipun adalah sama dimata hukum

KPK bukan Lembaga Malaikat, yang tidak memiliki kesalahan

Sebagai lembaga yang bukan lembaga politik, harusnya KPK mampu mempsisikan diri sebagai lembaga diatas semua kepentingan politik dan kekuasaan

Tidak ada aksi tebang pilih dan berbau pesanan, KPK bukan lembaga malaikat yang tidak memiliki kesalahan

Apalagi kita bicara mengenai orang per orang yang menjadi pimpinan KPK, semuanya manusia yang juga memiliki kepentingan ditambah latar belakang mereka yang amsih menjadi perwakilan dari lembaga hukum lainnya seperti kepolisian dan kejaksaan agung

Dengan latar belakang mereka sebelumnya yang juga berasal dari lembaga hukum lainnya, tentu juga membawa agenda tersendiri terhadap ‘pola pikir dan aksi’ yang dimiliki KPK

KPK bukan lembaga malaikat artinya bisa salah bertindak apabila selama ini masih melakukan aksi tebang pilih dan beraksi sesuai pesanan semata

Namun, akibat keterbutuhan masyarakat akan lembaga ‘super body’ untuk memberantas korupsi, akhirnya membuat keterbutuhan dan keinginan rakyat tersebut seolah tameng sempurna bagi KPK sendiri

Tameng KPK tidak pernah salah

Sementara semua lupa, KPK adalah lembaga yang juga menjadi incaran dari lembaga lembaga yang dari dahulu dikenal lembaga penuh kebobrokan dalam hal korupsi

Seolah mempercayakan lembaga malaikat dengan isi dari lembaga yang dari dulu dikenal dengan lembaga penuh korupsi, aneh

Dan lebih anehnya, kini pimpinan KPK tidak ada pimpinan yang berasal dari aktivis anti korupsi, semuanya berasal dari lembaga penuh kepentingan dari mantan pejabat pemerintah, BIN, Kepolisian hingga jaksa agung

Sekarang, apakah pantas KPK dijuluki; Maha Benar KPK dengan Segala Aksinya

 

Adityawarman

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY