Lagarde Peringatkan Resiko Perlambatan Ekonomi Di Negara-Negara Berkembang

0
528
International Monetary Fund Managing Director Christine Lagarde gestures as she speaks about the global economy at the Johns Hopkins School of Advanced International Studies in Washington April 2, 2014. The European Central Bank should ease monetary policy to combat the risk of "low-flation" that could crimp euro zone output and consumer spending, the head of the International Monetary Fund said on Wednesday. REUTERS/Kevin Lamarque (UNITED STATES - Tags: POLITICS BUSINESS EDUCATION) - RTR3JO26

Lingkarannews.com – Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde memperingatkan, bahwa perlambatan pada negara-negara berkembang bisa menyebabkan meningkatnya ketidaksetaraan dalam ekonomi global.

Pada kondisi kebangkitan ekonomi China yang mulai dingin dan jatuhnya harga komoditas, ekonomi pada emerging market¬†memperlihatkan pertumbuhan yang goyah dan menghadapi “kenyataan pahit yang baru,” kata Lagarde dalam sebuah pidato di Universitas Maryland.

“Tingkat pertumbuhan turun, arus modal telah terbalik, dan prospek jangka menengah telah memburuk tajam,” kata managing director IMF forum, menurut teks yang sudah disiapkan dari pidatonya.

China, ekonomi terbesar kedua di dunia, mencatat pertumbuhan terlemah dalam seperempat abad pada tahun 2015, dan Brasil dan Rusia berada dalam resesi.

IMF sekarang memproyeksikan bahwa tingkat pendapatan negara berkembang dan lingkup pembangunan ekonomi akan menghadapi tantangan tingkat ekonomi paling tidak dua pertiga percepatan itu diperkirakan satu dekade lalu, kata Lagarde.

“Ini berarti bahwa jutaan orang miskin menemukan lebih kesulitan untuk maju. Dan anggota dari kelas menengah menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka tidak terpenuhi,” katanya.

Konsekuensi dari perlambatan global yang saling berhubungan tidak ansich ekonomi, dia menunjukkan: “Ini juga disertai dengan risiko peningkatan ketidaksetaraan, proteksionisme, dan populisme.”

Untuk mengatasi kelemahan global yang terus meningkat, kepala IMF merekomendasikan bahwa negara-negara yang termasuk dalam emerging market, terutama mereka yang mengekspor komoditas, meningkatkan kebijakan pengeluaran mereka dan meningkatkan pendapatan non-komoditas untuk melakukan penyesuaian anggaran mereka ‘kurang menyakitkan.’

Dan untuk meningkatkan pertumbuhan, Lagarde meminta negara maju dan negara berkembang untuk selangkah meningkatkan upaya untuk membuka sistem perdagangan global yang muncul “dan mempromosikan integrasi perdagangan melalui perjanjian regional dan multilateral.”

Sebelumnya pada hari Kamis, kesepakatan perdagangan terbesar dalam sejarah ditandatangani di Selandia Baru, bendera 12 negara Pacific Rim dalam Trans-Pasific Partnerships yang bertujuan untuk memangkas tarif dan hambatan perdaganganuntuk 40 persen dari ekonomi global.

Inisiatif yang dipimpin AS, yang mana China tidak termasuk didalamnya, memerlukan ratifikasi oleh negara-negara anggota sebelum berlaku. (AFP)

(Interpreter : ADW | Editor : ADW/NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY