Konsultan Politik dan Moral Hazard Dibelakangnya

0
634

Lingkarannews.com  Jakarta – Sebuah film bernuansa politik pemilihan presiden, berjudul “Our Brand Is Crisis” menggambarkan bagaimana sebuah konsultan politik ( tim sukses ) kandidat presiden bekerja. Mulai dari pencitraan, pemilihan program kampanye, sampai hal-hal yang sudah mengarah pada black campaign dengan tujuan menjatuhkan lawannya. Raw Material cerita film itu sendiri adalah sebuah kisah nyata seorang konsultan politik – dalam film ini – bernama Jane Bodine yang telah berpetualang lama dalam perpolitikan pemilihan pemimpin – Negara/negara Bagian – dan mengakhiri karir-nya sebagai aktivis gerakan sosial di Bolivia.

Ada yang menarik di film ini, dimana pada ending cerita, si tokoh utama, Jane Bodine terpukul oleh kritikan seorang pendukung presiden fanatik yang sedang diusung tim-nya. Si pendukung fanatik begitu kecewa ketika dihari pertama masa tugas-nya, Klien Boddine yang memenangkan pemilihan presiden tersebut, justru menciderai janji kampanye-nya. Begitu terpukul-nya si pendukung fanatik, hingga ia menuntut tanggung jawab moral Bodine – secara personal – terhadap apa yang telah ia kerjakan. Buat bodine sendiri, ini adalah pengalaman pertama-nya di kritik oleh pendukung fanatik, ketika klien-nya memenangkan pertarungan. Sebuah gambaran otokritik yang baik.

Ada argumen bagus tentang pemilihan pemimpin, kira-kira bunyi-nya seperti ini ; “Election aren’t about ideas, election are about candidates, and candidates are about what is in on publics mind and heart“. Bisa jadi apa yang disampaikan dalam argumen diatas benar adanya. Pemilihan pimpinan – Negara/Negara Bagian/Perusahaan/Organisasi – pada akhir-nya akan ditentukan oleh persepsi penilaian publik ( pemberi suara ) terhadap kandidat, bukan pada ide atau program-program-nya. Jika sudah seperti ini, maka pencitraan adalah tugas utama yang akan diprioritaskan oleh konsultan politik untuk “menjual” klien-nya.

Kita tidak bisa menyalahkan konsultan politik terhadap apa yang dilakukan dan dikerjakan-nya untuk si klien, pasca klien memenangkan pertarungan dalam pemilihan. Karena pada dasarnya kontrak konsultan politik adalah hanya mengantarkan klien sebagai pemenang, tidak lebih, dan ini juga harus mulai bisa disadari oleh publik, bahwa konsultan politik bukan kingmaker yang bisa mengatur klien-nya seperti yang mereka mau. Konsultan politik hanyalah sebuah biro yang jasa-nya disewa oleh kandidat.

Namun belajar dari apa yang dialami Jane Bodine dalam Our Brand is Crisis, mungkin bisa jadi masukkan bagi para konsultan politik untuk tidak menjual desain kampanye dan program-program yang hanya sebatas “lip Service” , utopia atau agitasi belaka. Program kampanye harus make believe dan bisa dijalankan, karena kedepan-nya publik pemilih akan lebih agresif menuntut apa yang dijanjikan para kandidat, dan konsultan politik tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja, karena jika demikian ia hanya akan meninggalkan moral hazard dibelakangnya.

ADITYAWARMAN

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY