Konstelasi Politik Minyak Akan Memicu Krisis Ekonomi Global

0
1908

Lingkarannews.com – Stagnasi harga minyak di level US$ 30/barrel, tidak hanya membuat kalang kabut negara-negara nett exporter minyak – baik itu yang tergabung dalam OPEC, maupun yang tidak – namun juga perusahaan minyak multinasional. Harga minyak US$ 30/barrel, nyaris mendekati biaya produksi minyak per satu barrel, ini yang membuat perusahaan-perusahaan tersebut dihantui kekhawatiran mendalam, terlebih trend harga tersebut lebih mengarah downside.

Politik minyak yang tengah terjadi saat ini, benar-benar menempatkan para eksportir minyak berada dalam posisi serba sulit, membanjiri pasar atau tidak, hasilnya akan sama. Satu contoh, seandainya OPEC mengurangi porsinya pada pasar minyak sebanyak dua juta barrel per hari, maka dengan cepat kekosongan tersebut akan diisi oleh eksportir minyak lain diluar OPEC. Inilah yang menyebabkan mengapa para eksportir minyak akan tetap membanjiri pasar, meski harga minyak hampir tidak mendukung keuntungan signifikan bagi mereka.

Banyak pihak menuding, penyebab anjloknya harga minyak dalam dua tahun terakhir ini adalah akibat pecah persekutuan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi dalam kebijakan Petrodollar yang telah mereka dukung bersama lebih dari satu dekade. Arab Saudi sudah tidak lagi aware terhadap Petrodollar yang selama ini menjadi pengingat hubungannya dengan Amerika Serikat, ketika ia merasa ditelikung oleh Amerika Serikat yang memberi dukungan penuh pada pengembangan shale oil dalam negerinya sejak 2012.

Kesuksesan perusahaan shale oil Amerika Serikat dalam mengembangkan teknologi pemrosesan minyak mentah melalui pemasakan lapis batuan minyak, memang cukup signifikan dalam memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri Amerika Serikat beserta cadangan minyak strategis-nya. Hal ini sekaligus mempengaruhi ketergantungan impor minyak Amerika Serikat terhadap minyak teluk secara bertahap dan pastih. Lebih hebatnya, kesuksesan shale oil ini, ikut membawa Amerika Serikat membanjiri pasar minyak sepanjang 2015. Laporan Citibank menyebutkan, pada tahun 2020, Amerika Serikat akan dipenuhi oleh shale oil dan dapat dipastikan akan menjadi negara nett exporter minyak.

Meski shale oil memiliki teknologi alternatif dalam menghasilkan minyak bumi yang lebih canggih dibanding teknologi standar pengeboran, namun shale oil memiliki kelemahan, yaitu pada biaya produksinya. Diawal penerapan teknologi serpih ini, biaya produksi untuk satu barrel minyak berada pada kisaran US$ 55, tetapi seiring makin berkembangnya teknologi pemasakannya, kini biaya produksi shale oil per barrel telah turun dan berada dikisaran US$ 30. Bandingkan dengan biaya produksi dengan teknologi pengeboran, dimana biaya produksi minyak untuk satu barrel berada pada kisaran US$ 25. Bahkan Arab Saudi hanya membutuhkan biaya produksi sebesar US$ 8 untuk satu barrel minyak bumi. Dengan biaya produksi yang masih tinggi, maka akan sulit bagi shale oil untuk bersaing.

Titik lemah dari shale oil ini yang kemudian diserang Arab Saudi. Arab Saudi terus melakukan serangan terhadap perusahaan produsen Shale oil dengan cara membanjiri pasar minyak guna menggoyang turun harga minyak hingga mencapai titik dimana biaya produksi dari shale oil tidak tertutupi oleh harga jual minyak. Strategi Arab Saudi ini menampakkan hasil, terbukti ketika harga minyak bumi mencapai angka US$ 30/barrel, hanya beberapa saja dari perusahaan minyak shale oil yg bertahan, sisanya bangkrut.

Fakta ini tentu menimbulkan reaksi negatif Amerika Serikat. Amerika mengambil langkah politik keamanan dengan mengambil momen eksekusi El Nirm sebagai senjata untuk menekan Arab Saudi melalui kampanye ‘Merusak iklim Perdamaian di Timur Tengah’. Presiden Barrrack Obama berkali-kali menyatakan jika tindakan yang dilakukan Arab Saudi terhadap Nirm El Nirm berpotensi ‘meledakkan” Washington. Tujuan Washington dalam hal ini jelas, ingin menyingkirkan dominasi Arab Saudi dari negara-negara teluk. Sayangnya keinginan Washington ini seperti bertepuk sebelah tangan. Reaksi warga negara Iran yang membakar kedutaan besar Arab Saudi, justru membuat negara-negara teluk mendekat ke Arab Saudi, dengan ikut mengutuk Iran yang tidak mampu melindungi kedutaan besar Arab Saudi di Teheran, sebagai wilayah berdaulat.

Namun, reaksi Amerika Serikat ini sepertinya dilakukan dengan setengah hati, mengingat kondisi harga minyak mentah US$ 30/barrel, selain memukul perusahaan minyak shale oil dalam negerinya, juga memukul seteru abadi mereka, Russia dan China. Sepanjang tahun 2015, perusahaan minyak Russia dirundung kerugian, bahkan satu diantaranya nyaris bangkrut, pun demikian dengan China. Fakta ini membuat Amerika Serikat dalam posisi dilematis, disatu sisi Amerik Serikat perlu menyelamatkan perusahaan Shale Oil dalam negeri-nya, disisi lain ia mendukung turunnya harga minyak yang memukul perekonomian Russia dan China.

Melihat konstelasi politik minyak seperti ini, maka akan sulit sekali bagi minyak bisa mencapai harga US$ 60/barrel sampai akhir tahun ini, seperti yang diharapkan banyak pihak, terkecuali ada perundingan lebih lanjut antara negara-negara eksportir minyak untuk menyelasaikannya. Bersikerasnya Arab Saudi ‘membangkrutkan’ perusahaan shale oil dengan terus menekan harga minyak, secara tidak langsung akan memberi dampak buruk juga kepada negara-negara ekspotir minyak yang lain. Akan sulit bagi mereka untuk mengejar biaya produksi minyak Arab Saudi yang hanya US$ 8/barrel, demi mempertahankan kelanggengan bisnis minyak mereka.

Dampak buruk dari berkelanjutannya konstelasi politik minyak seperti ini, akan perlahan akan memicu kebangkrutan negara-negara nett exporter. Hutang menumpuk yang gagal bayar, kejatuhan saham-saham energi, PHK massal yang akan diikuti dengan menurunnya GNP dan GDP akan berujung pada kebangrutan massal. Inilah yang akan menjadi titik awal krisis ekonomi global.

(ADW/NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY