Ketika JK sindir Ahok soal pemimpin suka minta maaf

0
1360

Lingkarannews.com¬†Jakarta-¬† Persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa, Basuki Tjahaja Purnama, sudah delapan kali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Pada persidangan pekan ini, Ketua Majelis Ulama Islam (MUI), KH Ma’ruf Amin.

Sidang hari itu berlangsung sengit. Selama tujuh jam, Ahok, sapaan Basuki, dan tim kuasa hukumnya terus mencecar pria sepuh itu.

Suara meninggi dari kubu Ahok menggema di ruangan cukup luas itu. Kalimat mengancam juga sempat dilontarkan. Bahkan, Ahok dan tim pengacaranya sempat menuding ada pembicaraan khusus antara Ma’ruf dan SBY yang mendesak mengeluarkan fatwa terkait penistaan agama.

Prilaku dan sikap Ahok yang terkesan menghardik Ma’ruf dikecam banyak pihak. Ahok banjir kecaman mulai dari rakyat kecil hingga pejabat. Sikap Ahok dinilai tak santun pada Ma’ruf.

Diserang banyak pihak soal sikap lantangnya pada orangtua yang sudah sepuh, Ahok buru-buru minta maaf. Permohonan maaf itu dia sampaikan lewat sebuah video berdurasi 3 menit 37 detik.

“Saya atas nama pribadi dan seluruh tim penasihat hukum memohon maaf. Juga ke warga Nahdlatul Ulama mohon maaf sebesar-besarnya,” kata Ahok.

Dia juga berharap tak ada pihak-pihak tak bertanggung jawab memanfaatkan momentum ini untuk membuat panas situasi.

“Jangan dimanfaatkan oleh oknum tertentu yang adu domba saya dengan NU apalagi dihubungkan dengan Pilkada. Tentu kami tidak ingin bangsa digaduhkan lagi.”

Sebelum kasus ini, Ahok juga pernah meminta maaf terkait ucapannya menyinggung Surat Al Maidah ayat 51 dan mengaitkannya dengan memilih pemimpin dan kebohongan.

Gara-gara ucapannya itu pula, Ahok harus bertanggung jawab dan duduk di kursi pesakitan.

“Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa,” kata Ahok.

Ahok mengklain selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak ada tindak tanduknya yang mendeskriminasi Umat Islam.

“Saya juga bukan anti Islam. Kalian bisa lihat, bukan saya mau ria ya, sekolah-sekolah Islam kita bantu izin berapa banyak, termasuk KJP untuk Madrasyah. Termasuk kita bangun masjid. Kamu lihat tindak tanduk saya ada enggak ingin musuhin Islam? Ada enggak melecehkan Alquran?” tegasnya.

Ahok mengharapkan, penyataannya yang sempat menjadi viral di media sosial tersebut untuk tidak kembali dibicarakan. Harapannya agar pesta demokrasi yang akan segera digelar di ibu kota berjalan dengan tertib dan aman.

“Saya minta maaf atas kegaduhan ini, saya pikir komentar ini jangan dilanjutkan lagi. Ini tentu mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal tidak ada niat apapun, warga Kepulauan Seribu pun waktu itu tidak ada yang tersinggung malah kami tertawa-tawa kok,” tutupnya.

Dua kali melihat perangai Ahok yang demikian, Wapres Jusuf Kalla bereaksi tegas. Dia mengatakan, pemimpin yang doyan minta maaf berarti tak hati-hati dalam bertindak.

“Karena terlalu sering minta maaf berarti membuat kesalahan. Kenapa pemimpin membuat kesalahan yang sama? berarti dia tidak hati-hati,” ujar JK di Jakarta, Jumat (3/2).

JK mengatakan, dengan seringnya pemimpin meminta maaf seperti yang dilakukan salah seorang kandidat calon gubernur, maka masyarakat sendiri yang akan menilai.

“Pejabat publik ya, minta maaf ke publik ya mungkin berapa tahun sekali. Jangan setiap bulan minta maaf ke publik hal yang sama. Berarti hati-hatilah,” ucapnya.

Jauh sebelum rentetan kejadian ini, JK sebenarnya sudah pernah menasehati Ahok tak usah banyak bicara.

“Dia bilang jangan banyak omong, jangan banyak singgung yang bisa dipelintir orang. Tenang-tenang aja,” kata Ahok meniru ucapan JK saat keduanya bertemu usai dilantiknya Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono di Kantor Kementerian Dalam Negeri, pada Oktober lalu.(Merdeka.com)

 

ADW/NDI

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY