Ketika Islam Menjadi Musuh Bersama Kaum Liberal dan Komunis

0
3099

Lingkarannews.com – Seorang Komunis belum tentu seorang Atheis,  sementara Karl Marx memiliki sikap yang ambivalen terhadap agama. Marx terutama memandang agama sebagai “candu” yang dimanfaatkan oleh kelas penguasa untuk memberikan harapan palsu bagi kelas buruh, tetapi di lain pihak, ia juga memandangnya sebagai bentuk protes kelas buruh terhadap keadaan ekonomi mereka yang buruk. Ujung-ujungnya, Marx menolak keberadaan agama

Dalam interpretasi teori Marxis oleh kaum Marxis-Leninis yang utamanya dikembangkan oleh Vladimir Lenin, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia sehingga negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap ateistik dan antiagama. Itulah alasan mengapa beberapa pemerintahan berhaluan Marxisme-Leninisme pada abad ke-20 seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok membuat peraturan untuk memperkenalkan konsep ateisme negara. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kelompok komunisme agamis, bahkan komunisme Kristiani memegang peranan penting dalam perkembangan awal komunisme.

Vladimir Lenin dalam Tulisannya “Sosialisme dan Agama”, mengatakan bahwa “Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi.” Lenin meminta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi dan tidak menjadi perhatian negara. Menurut Lenin, setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis. Namun, Diskriminasi di antara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir oleh negara. Dalam tulisannya ini pula Lenin menginginkan agar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen dibatasi.

Sementara untuk liberalisme, ingatlah sebuah kalimat “bertuhan tanpa Agama, beragama tanpa Nabi”

Liberalisme atau liberal adalah sebuah paham yang didasarkan pada kebebasan dan persamaan hak, yang bermimpi akan lahirnya suatu masyarakat yang bebas, baik dalam cara berpikir ataupun bertindak bagi setiap individu.

Di Barat yang mula-mula muncul adalah liberalisme intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan, namun dari situ lahir dan tumbuh liberalisme pemikiran keagamaan yang disebut juga theological liberalism.

Secara ideologis, liberalisme adalah suatu paham yang membebaskan diri dari ajaran agama. Mereka mengakui adanya tuhan tapi tidak mau terikat dengan ajaran Tuhan (agama). Atau beragama tapi tidak mau tunduk pada ajaran Nabi. Bertuhan tanpa agama dan beragama tanpa syari’at.

Sedangkan secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang memberikan superioritas individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi (Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy).

Dalam konteks sosial, liberalisme diartikan sebagai etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum (Coady, C. A. J. Distributive Justice). Menurut Alonzo L. Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity) (Brinkley, Alan. Liberalism and Its Discontents).

Islam menjadi musuh bersama Komunis dan Liberal karena Ketauhidan

Selama dua puluh tahun terakhir, jumlah kaum muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar.

Meningkatnya populasi kaum muslim diberbagai belahan dunia dapat membawa dampak pada perubahan kebudayaan dunia dalam skala yang sangat besar.

Bisa saja dengan semakin besarnya jumlah kaum muslim maka kebudayaan di dunia ini akan dipenuhi dengan kebudayaan Islam yang nantinya akan menggantikan kebudayaan barat, sehingga hal ini menjadikan pihak barat menjadi paranoid.

Ketakutan dan kekhawatiran pihak barat bermula dari sebuah buku yang berjudul ‘De Derde Macht’ yang ditulis oleh DR. Edward J. Byng pada tahun 1954. Buku tersebut menceritakan tentang adanya masa kebangkitan umat Islam yang mencapai 400 juta umat yang menyebar di daerah sepanjang Tanger bagian barat yaitu Afrika Utara hingga ke Irian yaitu Indonesia dan melebar dari Asia Tengah hingga benua Afrika.

Di dalam buku tersebut juga telah dijelaskan bahwa seluruh umat muslim akan saling bekerja sama untuk membentuk kekuatan besar yaitu kekuatan ketiga. Hal inilah yang mendorong munculnya ketakutan Barat terhadap Islam sebagai kekuatan ketiga, sehingga pihak barat telah bersiap-siap untuk menghancurkan kekuatan tersebut dengan memecah belah umat Islam

Kekhawatiran Barat terhadap jumlah masyarakat Muslim bukanlah isapan jempol semata. Menurut beberapa sumber, negara-negara Eropa memiliki angka kelahiran sekitar 1,38 sehingga dapat diperhitungkan bahwa populasi di negara tersebut mengalami penyusutan. Tetapi populasi di Eropa tidak akan mengalami penyusutan.

Mengapa demikian? karena adanya imigrasi kaum muslim. Sejak tahun 1990 penduduk negara ini didominasi oleh kaum muslim yaitu sekitar 90% dari jumlah penduduk Eropa. Dengan adanya migrasi ini maka dapat diprediksikan bahwa masa mendatang Eropa akan dipenuhi oleh kaum muslim dan dapat menjadikan kebudayaan Islam menjadi kebudayaan terbesar di negara ini.

Selain Eropa ternyata fenomena ini juga terjadi pada negara-negara barat lainnya yaitu Inggris, Belanda, Rusia, Belgia, Jerman, Canada, dan juga Amerika Serikat. Dengan adanya fenomena jumlah kaum muslim yang terus meningkat di negara-negara barat maka dapat diprediksikan bahwa masa mendatang jumlah kaum muslim akan memenuhi wilayah negara barat dan akan menggeser kebudayaan barat dengan kebudayaan Islam. Inilah salah satu alasan ketakutan Barat atas jumlah kaum muslimin yang semakin meningkat tajam.

Ketakutan barat akan jumlah pemeluk Islam di dunia, menyebabkan adanya upaya meliberalisasi ajaran Islam yang sudah ada, demi menyimpangkan akidah dan memecah umat Islam

Bangsa barat dengan kekuatan Freemasonry nya sudah berupaya menyimpangkan atau mendistorsi ajaran Islam untuk lebih liberal, dengan tawaran tawaran program beasiswa pendidikan kepada negara negara Islam, dengan tujuan mendistorsi dan meliberal kan ajaran Islam yang sudah ada melalui generasi generasi pro barat yang sudah terdoktrin kebebasan berpikir

Menghancurkan keyakinan Islam yang Kaffah (sebenarnya), dengan menyimpangkan lebih bebas sesuai pemikiran pemikiran versi sendiri dan kekinian versi barat, karena barat memahami apabila kekuatan Islamis dibiarkan dan diberi tempat untuk berkuasa maka paham paham kapitalisme dan sekulerisme dengan sendirinya hilang

Komunis dan Liberal akhirnya bersatu hancurkan Islam

Ketakutan ketakutan akan kekuatan Islam di dunia, ditunjukkan dengan kegaduhan dan perang saudara di negara negara Islam yang dibuat oleh kekuatan barat dan komunis

Negara Islam dan negara dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam menjadi target untuk di pecah dengan perang saudara dan kegaduhan politik tiada henti

Mereka (Komunis dan Liberal) menjadi satu barisan demi kepemimpinan anti Islamis, dengan menjadikan sosok anti Islamis sebagai pemimpin dinegeri yang mayoritas rakyatnya beragama Islam

Boneka boneka yang diciptakan untuk mengkerdilkan politik Islam dinegeri dimana Islam menjadi agama yang mayoritas, boneka yang memiliki pemikiran ambigu dan tidak peduli akan konsep agama dengan negara

Distorsi ajaran serta pembatasan perkembangan Islam, kini telah menjadi agenda utama kaum Liberal dan Komunis yang ternyata masih satu rahim dilahirkan oleh Freemasonry cicitnya kaum Knight Templar

Islam vs Generasi turunan Knight Templar, mengingatkan kita akan catatan sejarah tentang sebuah perang besar yaitu perang salib, akan kah itu akan kembali terulang? namun dalam dimensi yang berbeda

Adityawarman @aditnamasaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY