Inilah Kesaksian Mantan Prajurit yang Terlibat Pembantaian Tiananmen Pada 4 Juni 1989

0
88

Lingkarannews.com – Beberapa waktu media berbahasa Mandarin di luar negeri mengekspos laporan kesaksian dari seorang mantan prajurit yang pernah terlibat dalam pembantaian Tiananmen 4 Juni tahun 1989.

Saat itu sejumlah besar mayat diangkut keluar dari jalan seputar Tiananmen melalui gorong-gorong air. Tak lama setelah peristiwa ’64’ seluruh prajurit yang terlibat dalam peristiwa dipensiunkan dan diancam agar tutup mulut.

Media berbahasa Mandari ‘Boxun’ pada 8 Desember 2014 memuat sebuah artikel yang mereka terima dari seorang netizen Tiongkok yang melukiskan apa yang ia saksikan saat berlangsungnya pembantaian di Tiananmen.

Netizen yang mantan anggota Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok tersebut menggunakan nama samaran ‘Annoymious’dan menyatakan bahwa dirinya adalah salah satu prajurit yang diturunkan ke Lapangan Tiananmen pada hari itu, ia mengaku bahwa peristiwa pembantaian menjadi mimpi buruk yang terus mengganggu pikiran dan sulit untuk dilupakan.

Regu mereka terlibat dalam pengurusan mayat setelah selesai pembantaian. Mayat-mayat itu diangkut keluar melalui gorong-gorong air yang terletak di bawah seputaran Lapangan Tiananmen. Setelah mayat satu per satu diturunkan ke dalam gorong melalui lubang gorong di permukaan jalan lalu dimasukkan ke dalam kantung besar dan diikat, setelah itu mayat dipindahkan dari tangan ke tangan oleh puluhan anggota regu yang sudah siap dalam gorong.

Mereka membutuhkan 2 hari 1 malam untuk menyelesaikan ‘pekerjaan’ itu. Tetapi mereka tak seorang pun tahu ke mana mayat-mayat itu diangkut pergi oleh truk-truk militer.

Netizen tersebut mengatakan bahwa saat itu usianya belum 20 tahun, beberapa rekan dalam regunya itu akhirnya menjadi gila karena tidak tahan menyaksikan begitu banyak adegan yang mengerikan.

3 bulan setelah regu mereka kembali ke tangsi, seluruh anggota pasukan yang terlibat dalam pengurusan mayat dipensiunkan meskipun sampai sekrang mereka masih diberikan uang pensiunan. Sebelum mereka meninggalkan pangkalan, komandan mengancam akan melakukan tindakan tegas kepada siapa saja yang membocorkan rahasia ini, demikian kutip Ephoch Times.

Sejak saat itu, beberapa rekan seangkatannya mengalami gangguan kejiwaan. Ada juga yang bunuh diri. Dan selama sekian tahun netizen tersebut sering terganggu tidurnya oleh mimpi-mimpi buruk. Ini merupakan pertama kalinya ia menyampaikan uneg-unegnya kepada pihak luar.

Seorang saksi mata menyebutkan, bagaimana tentara dengan kejam menggunakan mesin penggilas dan menggilas tubuh mahasiswa, derasnya aliran darah yang masuk ke gorong-gorong bagaikan sedang turun hujan lebat

Dilaporkan oleh media Aboluowang, pada 8 Juni kala itu, seorang anggota tentara berpangkat wakil batalion yang juga terlibat dalam pembantaian ’64’ menyaksikan seluruh proses pembantaian menyebutkan bahwa cara Partai Komunis Tiongkok (PKT) membantai mahasiswa jauh lebih kejam dibandingkan dengan Fasisme.

pembantaian_tiananmen_2

Derasnya darah yang mengalir masuk ke dalam lubang gorong-gorong di sekitar sana seperti sedang turun hujan lebat [ephoch]

Ia menyaksikan sendiri, 9 unit mesin penggilas di suatu jalan di kota Beijing digerakkan untuk menggilas mahasiswa dan warga yang sedang berunjuk rasa. Adegannya luar biasa mengerikan. Derasnya darah yang mengalir masuk ke dalam lubang gorong-gorong di sekitar sana seperti sedang turun hujan lebat.

Mahasiswa yang tidak tergilas langsung dihajar oleh pasukan yang membawa pentungan. Ada beberapa mahasiswa yang ingin lari menghindar tetapi sia-sia karena anggota pasukan berada di seluruh penjuru mengepung mereka.

Salah seorang mahasiswa berlari menuju sebuah tembok, ia rupanya berusaha untuk melompati tembok menyelamatkan diri, tetapi sebuah tembakan akhirnya membuat badanya terjatuh lunglai.

Kisah Pembantaian Mahasiswa

Ribuan mahasiswa serta warga Beijing berkumpul di Lapangan Tiananmen pada 15 April 1989, ikut berpartisipasi dalam acara berkabung atas meninggalnya mantan Sekjen PKT Hu Yaopang. Aksi itu dengan cepat berkembang menjadi gerakan demokrasi. Untuk menghentikan unjuk rasa mahasiswa yang mendapat dukung dari warga Beijing PKT tak segan-segan mengerahkan kekuatan militer untuk membubarkan mereka dengan cara yang kejam. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai “Pembantaian 64”.

Dini hari 4 Juni 1989 militer Tiongkok dengan senjata lengkap dikerahkan ke Lapangan Tiananmen untuk membubarkan secara paksa aksi unjuk rasa mahasiswa yang datang dari seluruh pelosok Tiongkok. Ribuan pasukan bernaung di belakang kendaraan berlapis baja, truk dan tank-tank bergerak maju ‘membersihkan’ lapangan Tiananmen dari kerumunan mahasiswa dan warga. Sambil bergerak maju pasukan terus menembaki mahasiswa dan warga sehingga ribuan korban berjatuhan.

Namun, dari file rahasia yang disimpan Gedung Putih ditemukan informasi bahwa melalui sumber terkait darurat militer di Tiongkok, pihak Washington memperoleh data korban seperti yang dilaporkan ke internal Zhongnanhai. Jumlah korban meninggal maupun luka dalam peristiwa Tiananmen diperkirakan mencapai 40.000 orang dan 10.454 orang di antaranya meninggal dalam peristiwa. (Sumber)

adw

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY