High Speed Railway ; Tinjauan Keterbutuhan

0
1184

Lingkarannews.com – Dalam majalah terbitannya, Gridlines tahun 2011, tentang High Speed Railways (HRS) , PriceWaterCooper memberikan study tentang kereta super cepat (bullet Train) antara pola kebutuhan, peluang dan penerapannya pada sebuah negara. Majalah yang meng-khusukan pembahasannya pada infrastruktur, dan mem-fokuskan pada perkembangan teknologi transportasi ini ,mengambil Jepang, Prancis China, Amerika Serikat dan Rusia sebagai wilayah study kasus HSR.

Pada bagian pembuka majalah tersebut, Richard Abadie selaku Global capital projects and infrastructure leader, memberikan sedikit gambaran tentang seberapa pentingnya peran HSR terhadap kebutuhan transportasi sebuah negara.

HSR can play an important role in a nation’s transportation network, depending on a range of demographic, geographic, social and economic factors. Determining when it is the right solution is as much an art as a science, requiring a view that balances local preferences with big-picture economic and engineering practicalities. Making that judgment goes to the heart
of properly deploying HSR today

Kutipan itu jelas sekali menggambarkan betapa keterbutuhan transportasi suatu negara akan sangat bergantung pada faktor demografi, geografi, sosial dan ekonomi suatu bangsa. Apakah kereta cepat/super cepat bisa menjadi solusi bagi keterbutuhan suatu bangsa atau tidak?

Menurut ketentuan Uni Eropa 1996 dan kini telah menjadi template global, HSR terdiri dari:
a. Infrastruktur jaringan yang mampu menangani kecepatan 250 kilometer per jam (kpj) atau lebih.
b. Upgrade struktur Jaringan rel mampu menangani kecepatan sekitar 200 kilometer per jam
c. Jaringan yang dapat ditingkatkan sesuai dengan fitur HSR karena topografi, relief, atau kendala zonasi, pada kecepatan yang disesuaikan dengan masing-masing kasus.

There is clearly a “sweet spot” for HSR somewhere between 400 to 800 kilometers that makes it overwhelmingly the preferred mode of travel over both air and road

ketentuan dan pemikiran tersebut diatas dapat menjadi gambaran jarak minimal ideal antara origin dan destinasi yang akan diaplikasikan HSR. HSR akan menjadi efektif apabila jarak yang akan dilalui-nya diatas kecepatan rata2 yg bisa dicapai kereta tersebut, yaitu 200 km.

Sedangkan titik efisiensi HSR akan dapat dicapai apabila ia merupakan jalur kereta dengan multi destination, yang berarti kereta melayani beberapa tempat tujuan.

Jaringan Jalan HSR

Shinkansen has transported tens of billions of passengers over the last 47 years, without a single fatality in one of the most geologically vulnerable nations in the world, and with delays over a 10-year period that average only 41 seconds“.

Kutipan Hiroshi Okada, former head of Japan Railway Technical Service diatas jelas menggambarkan efektifitas dan efisiensi HSR sebagai moda transportasi massal alternatif. Desain awal shinkansen di Jepang adalah sebagai moda angkutan yang mampu melayani perpindahan dan pertukaran manusia (pekerja) antara dua wilayah dalam jumlah masal dan waktu singkat. Maka tidak heran jika selama 47 tahun pengoperasiannya, shinkansen telah mampu melayani puluhan milyar penumpang.

Cities with a Shinkansen station saw an increase of about 155% in their municipal receipts between 1980 and 1993, compared with a national average of about 110% and 75%, respectively, for cities near the Tōhoku line without the service“.

Sementara pada study yang lebih luas tentang HSR digambarkan dengan kutipan :

The best case for HSR is made by its many successes. After almost half a century of expansion on two continents, examples abound of HSR lines that have drastically changed the economic and demographic landscape of the areas they serve“.

Namun demikian tidak berarti HSR adalah jawaban tunggal atas keterbutuhan moda transportasi bagi satu wilayah. Keterbutuhan moda transportasi suatu wilayah tetap akan sangat bergantung pada habit masyarakat setempat.

Ultimately, determining when HSR is the right transportation solution depends on finding the balance that fits local conditions and the distinct factors at work in each case“.

Amerika Serikat dan Russia adalah dua contoh negara dimana HSR tidak menjadi moda transportasi pilihan. Habits masyarakat Amerika Serikat dan Rusia yang menyukai berkendaraan pribadi (mengendarai mobil) menjadi pertimbangan untuk tidak menggunakan HSR sebagai moda transportasi dalam strategi transportasi masa depan mereka.

The American and Russian experience demonstrates that HSR is not a one-size-fits-all transport strategy. Different nations—of different sizes, different population levels, different cultural habits, and, above all, different preexisting transport infrastructures—have different needs“.

Apa yang dapat disimpulkan pada study yang dilakukan PWC pada High Speed Railways adalah; HSR merupakan modal transportasi alternatif yang memiliki keunggulan dalam ke-efektif-an dan ke-efisiensi-an. Dibutuhkan study demografi, geografi dan sosial lebih lanjut untuk memutuskan apakah HSR cocok untuk diaplikasikan pada satu wilayah, dan seberapa besar dampak positif-nya dan negatifnya, sebelum semua masuk dalam tinjauan bisnis.

Referensi :
Highspeed
High Speed Rail
Gridlines Megazine

(ADW/NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY