Harusnya AHOK Beli Sendiri Tanah Belakang RS Sumber Waras, Agar Tidak Ketahuan Bohongnya

0
605

 

 

Lingkarannews.com- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok ditantang untuk membeli sendiri tanah di bagian belakang areal Rumah Sakit Sumber Waras-Grogol seluas 3,64 hektare dengan uang pribadinya, sesuai dengan penilaiannya selaku gubernur bahwa harga yang ditawarkan untuk tanah tersebut cocok dan murah.

Roso Daras, Koordinator Tim Peneliti Garuda Institute untuk Pembelian Tanah RS Sumber Waras, Minggu (12/7) mengatakan kalau sebagai gubernur Ahok meyakini tanah itu layak dihargai Rp20,75 juta per meter, seharusnya dia akan mengambil putusan yang sama apabila dia memakai uang pribadi dan atas nama pribadi untuk membeli tanah tersebut. “Itu tanah tidak punya akses jalan, wilayahnya sering banjir, jalan yang ada jalan kampung yang sempit dan macet.  NJOP-nya Rp7,44 juta, HGB-nya habis 2018, nunggak PBB Rp6,62 miliar. Tanahnya belum siap bangun, harus keluar ongkos bongkar bangunan bertingkat di atasnya. Mau Ahok selaku pribadi nawar Rp20,75 juta per meter?” katanya.

Sedangkan pemilik tanahnya saja, sambung Roso , pada saat yang sama sudah sepakat untuk melepas tanah itu pada harga Rp15,50 juta per meter. Tak hanya itu, pemilik tanah, Yayasan Kesehatan Sumber Waras, juga masih memberikan bonus dengan menguruskan perubahan izin peruntukan tanah dari semula kesehatan menjadi komersial.

Menurut Roso, kalau memang secara pribadi Ahok tidak berani membeli tanah itu seharga Rp20,75 juta per meter, maka dengan konsistensi sikap dan nalar yang sehat, selaku gubernur pun seharusnya dia tidak ngebet membeli tanah itu. Tapi faktanya, Ahok hanya butuh sehari untuk memutuskan sebuah transaksi tanah bernilai Rp775,65 miliar.

Ingat, lanjutnya, selaku gubernur, Ahok tentu tahu Pemprov DKI masih memiliki berhektare-hektare tanah yang siap untuk dibangun rumah sakit kanker di atasnya. “Itu di Jl. Pluit Raya ada tanah Pemprov DKI 2 ha, di Jl. MT Haryono ada tiga kavling 1,2 ha, dan masih banyak lagi yang lain. Itu tanah kurang strategis apa, kok malah buang-buang uang.

”Di luar itu, Roso menekankan, sebagai mantan pengusaha Ahok tentu paham kalau ada tanah yang sedang dipinang orang lain, bahkan sudah dikasih uang muka Rp50 miliar, tidaklah etis hukumnya merebut tanah tersebut. Sebagai orang berpendidikan, Ahok tentu tahu merebut tanah yang sudah dipinang itu bisa dimejahijaukan. “Ini ibarat ada perawan tua bernama Ming Hui yang sudah dipinang si Ciput dan dalam proses kimpoi. Tiba-tiba ada pembesar yang ngebet lalu ketemu orang tua Ming Hui dan mengawini perawan tua itu. Coba si pembesar tadi tak punya kuasa, pasti si Ciput akan nuntut. Sudah dipinang kok diserobot. Kalau di desa, sudah digebuki itu,” katanya.

Selain itu, Roso menambahkan, Ahok sebaiknya juga terbuka dengan masyarakat Jakarta yang diambil uangnya secara paksa untuk membiayai uang lauk pauk dirinya, tentang apa yang sebetulnya terjadi antara dia dan Yayasan Kesehatan Sumber Waras serta Perkumpulan Sin Ming Hui yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa di Jakarta.“Saya bukan rasis. Saya melihat secara politik praktis. Itu yayasan kesulitan menjual tanahnya. Apalagi yayasan itu ribut terus. Ada demo karyawan-lah, saling tuntut-lah. Soal duit semua itu. Ahok sendiri butuh duit untuk kampanye. Apa ini balas jasa Ahok terhadap warga Tionghoa yang memilih dia? Atau ini persiapan pilkada 2017?” katanya.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan apapun dari Balai Kota. Namun, Ahok sebelumnya mengatakan harga NJOP tanah tersebut pada 2014 adalah Rp20 juta per meter. Keterangan Ahok ini berbeda dengan riset Garuda Institute yang menyebut harga NJOP tanah tersebut, sesuai dengan audit BPK, hanyalah Rp7,44 juta per meter.

sumber: bisnis.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY