Gerakan 212, makna Intoleran dan Peristiwa Rohingya

0
21

Lingkarannews.com Sosbud- makna toleran dan intoleran ramai ketika kasus penistaan agama terjadi pada waktu pilkada DKI Jakarta, banyak pihak melabeli pihak lain yang terlibat gerakan aksi bela Islam seperti gerakan 212 sebagai pihak yang intoleran karena dinilai melakukan penekanan pada pihak lain, namun apakah benar demikian?

Gerakan 212 disebut kaum intoleran, lantas mereka yang berseberangan dengan gerakan tersebut disebut adalah kaum toleran?

Berbagai peristiwa yang terjadi pada saat ini harusnya menjadi sebuah bukti yang menjelaskan pada kita semua, salah satu contoh adalah peristiwa pembantaian (Genosida) di Rakhine Myanmar kepada muslim Rohingya

Kaum yang dulunya mengatakan diri sebagai kaum toleran justru dengan berbagai alasan tidak ikut menyuarakan peristiwa kemanusiaan yang terjadi kepada kaum Muslim Rohingya di Rakhine

Mereka yang melabeli diri paling pancasilais dan paling toleran dengan sendirinya memunculkan sifat aslinya, menghilangkan sifat kemanusiaan dan keadilan sosial yang tercantum dalam pancasila

bahkan dalam pembukaan undang undang dasar negara termaktub “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Apa yang terjadi pada muslim rohingya di Rakhine Myanmar adalah sebuah peristiwa kemanusiaan dimana satu etnis menagalami pembantaian massal atau genosida, lantas sebagai negara yang memiliki dasar Pancasila, apakah hanya diam menjadi penonton

Stigma negatif yang dilekatkan kepada gerakan 212 bahwa mereka adalah kaum intoleran seolah terbantahkan dengan sendirinya, justru mereka yang terdepan menyuarakan pembelaan dan perlawanan atas peristiwa kemanusiaan yang terjadi pada muslim Rohingya

Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada kaum yang melabeli diri kaum paling toleran dan paling pancasilais, justru lebih memilih mengeluarkan banyak alasan-alasan dan pendapat versi masing masing

Mungkin ini membenarkan fakta lainnya, bahwa yang melabeli diri kaum toleran tak lebih kaum yang aslinya tidak pernah bergaul dengan masyarakat karena memilih membangun rumah denga tembok tembok tinggi dan menyekolahkan anaknya pada sekolah untuk kaumnya sendiri

Lantas, siapakah yang sebenarnya kaum intoleran dan tidak pancasilais?

 

Adityawarman @aditnamasaya

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY