Gempa Taiwan 2016, Inikah Rangkaian Proyek WILDLANDS Freemasonry ??

0
7716

Lingkarannews.com – Sejak terungkap banyak fakta mengenai gempa-gempa yang terjadi dalam 20 tahun terakhir adalah merupakan gempa artifisial, kini menjadi sulit membedakan yang mana gempa alami dan mana gempa hasil rekayasa.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai gempa-gempa hasil rekayasa, ada baiknya kita mengingat kembali ucapan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice, menyikapi Bencana Tsunami Aceh pada 2 Januari 2005 :

“Bencana Tsunami Asia memberikan ‘kesempatan bagus‘ bagi Amerika Serikat untuk menunjukkan rasa iba dengan berusaha meringankan beban yang menghasilkan ‘dividen‘ dari sisi diplomatik”

Bagaimana mungkin ungkapan ini keluar dari mulut seorang petinggi negara menyikapi bencana kemanusiaan. Diksi ‘dividen’ sangat tidak pas untuk mengungkapkan perasaan iba. Condoleezza tidak terpeleset lidah, ia hanya mengungkapkan rasa puas atas keberhasilan proyek percobaan yang sedang dilakukan tuan-tuannya.

Sepanjang 1995 – 2016, banyak ditemukan kejadian bencana yang serupa, dengan pola yang hampir sama. Ambil contoh gempa Kobe 1995, dengan Gempa Taiwan yang baru saja terjadi. Akibat kehancurannya (Damage Factor) hampir sama.

KobeEarthquake
Gempa Kobe 1995

TaiwanEarthquake Gempa Taiwan 2016

Pun demikian dengan bencana tsunami di Aceh 2004 dengan tsunami di Jepang 2011, keduanya memiliki kesamamaan, baik itu pada proses kejadiaannya maupun pada kehancuran yang ditimbulkan.

Dejavu ?? Tentu saja. Mengapa gempa & tsunami ditempat yang beda, waktu yang berbeda memiliki pola kehancuran yang sama? suatu kebetulan?? rasanya tidak. Ada kesengajaan dibalik kedua bencana ini.

Proyek WILDLANDS, SEAL, dan HAARP

lebih mudahnya, proyek Wildlands bisa diartikan sebagai Agenda Pengendalian Populasi Penduduk Dunia. Agenda ini berisi tentang rencana-rencana freemasonry untuk mengontrol jumlah penduduk dunia demi memudahkan pembentukkan tatanan dunia baru menuju pemerintahan satu dunia.

Rencana pengendalian penduduk ini dilakukan dengan berbagai macam cara ; Lewat budaya melalui program LGBT dan Drugs, politik melalui perang, kesehatan melalui penyebaran virus berbahaya, ekonomi dengan embargo, serta bencana, melalui rekayasa bencana. Pada bagian rekayasa bencana inilah proyek SEAL dan HAARP mengambil peranan.

Proyek SEAL

Proyek SEAL adalah sebuah program yang diciptakan oleh militer Selandia Baru untuk mengembangkan senjata yang bisa menciptakan tsunami yang merusak. Senjata ini pertama kali diuji coba di pantai Whangaparaoa di Auckland antar tahun 1944 – 1945. Eksperimen ini dilakukan oleh Profesor Thomas Leech.

Kepala pertahanan Inggris dan Amerika Serikat yang mengetahui hal ini, sangat ingin melihat sejata tersebut dikembangkan. Senjata ini dianggap sama pentingnya dengan bom atom. Jika senjata ini dimodifikasi dengan inti nuklir, maka kapasitas ledakannya dapat membuat gempa, bahkan tsunami yang mampu merusakkan sebuah kota.

Dokumen-dokumen rahasia proyek SEAL baru di deklasifikasi pada tahun 1999. Sebuah salinan laporan deklasifikasi tersedia untuk umum di Scripps Institution of Oceanography di San Diego California. Hingga saat ini proyek SEAL masih terus dikembangkan.

Proyek HAARP

Berbeda dengan proyek SEAL, HAARP (High Frequency Active Auroral Research Progam) adalah program senjata massal melalui modifikasi cuaca yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, sudah dimulai sejak era 1940-an.

Adalah John Von Neumann, seorang ahli matematika, yang pertama kali mempresentasikan penelitian tentang modifikasi cuaca dan iklim ini ke Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Selanjutnya Neumann ditunjuk untuk mengepalai research proyek HAARP ini.

HAARP - 1

HAARP

Fasilitas HAARP

HAARP - 2

Cara Kerja HAARP

Hasil ujicoba modifikasi cuaca pertama kali dicoba pada perang Vietam, di tahun 1967 dengan kode misi POPEYE. Pada ujicoba perdana ini yang dimodifikasi adalah awan. Teknik pengumpulan awan pada satu wilayah dengan tujuan membuat musim hujan sepanjang tahun di wilayah yang diinginkan dalam hal ini wilayah vietnam. Akibat hujan sepanjang tahun tersebut, rute perjalanan untuk menyalurkan persediaan bekal musuh disepanjang jalur Ho Chi Minh rusak.

Militer Amerika Serikat telah mengembangkan kemampuan HAARP menjadi lebih canggih, yang memungkinkan secara selektif mengganti pola cuaca. Gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah memungkinkan HAARP menyebarkannya tanpa dapat terpantau radar dan perangkat penangkap gelombang sejenis.

Dugaan-dugaan telah dibuat, bahwa sejak tahun 1970-an Amerika Serikat melalui program HAARP-nya telah ‘mengalami kemajuan’ pesat dalam hal – apa yang mereka sebut – senjata gempa bumi, hingga tahap dimana Amerika Serikat mampu memanfaatkan peralatan yang menggunakan Elektriomagnetik Tesla, teknologi plasma dan sonik untuk membuat ‘bom gelombang kejut’.

Pemerintah China sempat mengeluarkan tudingan ke Amerika Serikat berkaitan dengan gempa yang memakan korban 90.000 jiwa yang diterjadi di wilayahnya pada tahun 2008. China mengatakan bahwa Amerika Serikat menembakkan gelombang kejut berkekuatan 90 juta voltage yang mengakibatkan terjadinya cuaca ekstrim diwilayah China dan gempa permukaan.

Wajar jika kemudian banyak pihak mencurigai bahwa gempa yang terjadi di Kobe & Taiwan, serta tsunami Aceh dan Jepang adalah akibat dari aktifitas senjata massal mematikan ini. Wallahu’alam.

FREEMASONRY Dibalik Semuanya

Informasi keberadaan proyek-proyek dengan tujuan penghancuran, serta depopulasi manusia seperti ini begitu terbuka, dan bisa didapatkan banyak di internet. Namun hingga tulisan ini dibuat, masih belum ada pihak yang dengan terang-terang berani menentang keberadaannya. Dunia seakan sengaja membiarkannya dan menutup mata. Mengapa?

Karena pemiliki proyek ini adalah Freemasonry, the invicible hands yang hampir tidak mungkin terjangkau oleh hukum apapun.

(ADW/NDI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY