Dugaan Sudirman Said di Manfaatkan oleh JK Makin Menguat

0
1571

 

Lingkarannews.com- Kasus pencatutan nama presiden dinilai adalah sebuah komoditas politik yang dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), agar kasus korupsi yang dilakukan Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino tertutupi.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Pangi Syarwi Chaniago menilai, hal tersebut adalah penyebab mengapa JK terlihat ngotot mengarahkan polemik pencatutan nama presiden.

Diketahui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said telah melaporkan Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus pencatutan nama presiden dan wakil presiden terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

“Sudirman adalah tumbal, Kemungkinan ini mainan JK. Jadi Sudirman Said dimanfaatkan oleh JK,” ujar Pangi melalui pesan singkat kepada Sindonews, Sabtu 29 November 2015.

Pangi menilai, bahwasannya sidang MKD untuk mengadili dugaan pelanggaran etika oleh Ketua DPR sangat kental aroma politisnya. Pasalnya telah ditemukan surat siluman.

“Surat siluman itu ditujukan oleh Sudirman Said ke Pimpinan Freeport untuk menjamin perpanjangan kontrak pemerintah dengan mengubah peraturan sebelumnya,” ungkap Pangi.

“Di saat yang sama, Sudirman Said melaporkan dugaan rekaman Setya Novanto dengan Freeport mencatut nama presiden,” sambungnya.

Menurutnya, Sudirman Said seolah tidak konsisten, lantaran di satu sisi ingin membongkar tingkah laku elite yang mau disuap oleh Freeport via pemberian saham dengan jaminan perpanjangan kontrak Freeport. Namun Sudirman sendiri membuat surat siluman tersebut.

“Di sisi lain Sudirman Said diduga juga bermain mata dengan Freeport, dengan terungkapnya surat siluman yang akan memerpanjang kontrak Freeport dengan mengubah peraturan sebelumnya,” ucapnya.

Maka itu menurut Pangi, adalah sesuatu hal yang wajar apabila pemimpinan Koalisi Merah Putih (KMP) sudah terang benderang dan siap pasang badan berada di belakang membela Ketua DPR Setya Novanto.

 

Sumber

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY