Donald Trump masih mungkin batal jadi presiden AS, Hillary bisa maju

0
1849

Lingkarannews.com Washington- Sebanyak 4,6 juta orang sudah menandatangani petisi yang menyerukan agar Donald Trump dicopot dari presiden terpilih Amerika Serikat. Angka itu adalah yang terbesar dalam sejarah situs petisi Change.org.

Secara teori Trump dimungkinkan untuk dicopot sebagai presiden terpilih meski hal semacam itu tidak pernah terjadi dalam sejarah pemilu di Amerika. Hillary Clinton sebetulnya meraup lebih banyak suara dalam pemilu 8 November lalu ketimbang Trump, tapi akhirnya Trump yang terpilih karena sistem pemilu AS menghitung Electoral College.

Koran the Independent melaporkan, Ahad (4/12), petisi dengan tajuk “Jadikan Hillary Clinton Presiden” beralasan perempuan 68 tahun itu harus jadi presiden karena dia meraih suara lebih banyak dan menyebut Trump tidak pantas jadi presiden AS.

Petisi kali ini dua juta lebih banyak ketimbang kampanye penghentian Festival Daging Anjing Yulin tiga tahun lalu.

Petisi yang dimulai dua hari setelah hari pemilihan ini digagas oleh Daniel Brezenoff.

Mereka yang setuju dengan petisi ini berangkat dari semangat bahwa hasil pemilu kemarin masih bisa berbalik. Sistem Electoral College mengharuskan setiap perwakilan negara bagian (elector) menyalurkan suaranya untuk menentukan siapa yang akan menjadi presiden AS baru. Setiap anggota perwakilan di negara bagian memang sepatutnya memilih capres yang menang di negara bagian tersebut, tapi secara teori mereka juga bisa berubah pikiran.

“Pada 19 Desember, para elector akan menyalurkan suara mereka,” tulis petisi itu. “Jika mereka memilih sesuai apa yang dipilih negara bagian maka Donald Trump akan menang. Namun, di 14 negara bagian yang dimenangkan Trump, mereka juga bisa memilih Hillary Clinton tanpa khawatir akan dihukum.”

Petisi ini juga menginginkan sistem Electoral College diubah karena hasil popular vote yang berbeda.

“Hillary menang popular vote. Satu-satunya alasan Trump menang adalah karena Electoral College,” kata petisi ini.

“Tapi Electoral College bisa menyerahkan Gedung Putih kepada kandidat lain. Jadi, mengapa tidak memanfaatkan kondisi tidak demokratis ini untuk memastikan hasil yang lebih demokratis?”

Merdeka.com

ADW/NDI

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY