Benarkah ISC pengimpor Pertalite mirip seperti Petral; dan kini sedang diperiksa

0
550

 

Lingkarannews.com- Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan, pejabat Integrated Supply Chain (ISC) yang terlibat mafia minyak dan gas bumi (migas) masih harus diselidiki.

Atas dasar itu, pejabat ISC tersebut belum dinon-aktifkan bersama empat pejabat Pertamina yang sudah dikenai sanksi.

“Di ISC, karena di situ belum tersebut namanya siapa, kami masih lakukan penyelidikan,” kata Dwi kepada wartawan, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Dwi menjelaskan, Pertamina masih melakukan penyelidikan mengenai siapa yang bertanggung jawab atau perhitungan offer estimate (lebih tinggi) dari pada harga.

“Di ISC sedang kita lakukan penyelidikan,” ucap Dwi.

Pada kesempatan sama, Vice President ISC, Daniel Purba enggan memberikan tanggapan saat ditanya wartawan soal transparansi pengadaan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

“Tolong nanti pertanyaannya dikumpulin saja lewat Bu Wianda (VP Corporate Communication), nanti kita jelasin,” kata Daniel.

Mantan anggota Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas (RTKM) itu juga enggan menanggapi, saat dimintai pendapat bahwa ISC tidak ada bedanya dengan Petral. “Nanti lewat Bu Wianda saja ya,” kata Daniel.

Sebelumnya politisi PDIP yang juga anggota Komisi VII DPR Bambang Wuryanto berharap pemerintah tak tergesa-gesa merealisasikan pemasaran pertalite. Perlu dikaji lebih dalam efek positif dari pemasaran pertalite.”Kalau premium dihilangkan, sama saja dengan menaikkan harga BBM. Kalau itu dinaikkan, akan berat ke rakyat perekonomian melambat,” kata Bambang.

Dia lalu mengingatkan bahwa berdasarkan laporan keuangan Pertamina, untuk impor dan distribusi Pertamina, nilainya hingga lebih dari USD 66 miliar atau setara Rp830 triliun pertahun. Angka itu demi memenuhi kebutuhan minyak nasional yang 15 juta barrel perbulan. Sementara kilang nasional hanya bisa memproduksi 5-5,2 juta barrel perbulan.”Jadi masih impor 10 juta barrel premium. Siapa yang impor? Yang impor ISC (Integrated Supply Chain) yang dipimpin Daniel Purba yang dulu anak buah Ari Soemarno,” ujarnya.

“Nah, kebutuhan 10 juta barel perbulan yang diimpor ini, kalau diganti ke Petralite, kita tanya, siapa yang bikin petralite? Apa tak menimbulkan mafia baru? Bagaimana cara bikinnya? Kami tahu ini menciptakan rente baru. Jangan tergesa-gesa.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY