10 Fakta Yang Masih Menjadi Misteri Dibalik Peristiwa 11 September (WTC)

0
2760

Lingkarannews.com Ragam- Hari ini tepat 15 tahun terjadinya tragedi bersejarah terorisme mengguncang  Amerika Serikat  atau dikenal Tragedi 11 September atau Nine Eleven. Banyak fakta dan informasi penting  dilupakan oleh masyarakat mengenai aksi terorisme yang melahap naywa sedikitnya 2.911 orang.

Sebagian besar korban tragedi 11 September 2001 masih berjuang memperbaiki hidup, dan menjalani rehabilitasi trauma. Keluarga dari sedikitnya 1.113 korban traged itu  masih memburu kejelasan dari pemerintah Amerika Serikat. Mereka menagih data kematian anggota keluarga mereka.

Berikut 10 hal menarik yang patut disimak dari Tragedi 11 September, dilansir dari laman USA Today, Ahad, 11 September 2016.

1. Akses Pembajak ke Kokpit Pesawat masih Misterius

Laporan komprehensif pemerintah AS tak berisi keterangan pasti, terkait bagaimana para pembajak bisa masuk ke dalam kokpit pesawat  yang dibajak. Laporan itu diterbitkan pada 2004 leh komisi khusus yang dibentuk untuk menginvestigasi peristiwa tersebut.

Dalam tragedi itu, pembajak yang diyakini berasal dari kelompok al-Qaedah masuk ke dalam kokpit empat pesawat komersial yang dibajak. Mereka mengambil alih kemudi dan menabrakkan si burung besi ke gedung pencakar langit World Trade Center, dan Pentagon di Arlington, Virginia.

Di laporan itu disebutkan juga bahwa seorang pramugari pesawat American Airlines 11, yang dibajak, sempat melapor dari dalam pesawat. Petugas itu berspekulasi tentang cara para pembajak memaksa masuk kokpit. “Mungkin mereka menikam pramugari untuk mendapat kunci kokpit, atau memaksa (pramugari) membukakannya, atau memancing pilot keluar,” ujar petugas tersebut, sesuai yang terdapat pada laporan tersebut.

Pesawat itu menabrak menara utara WTC, dan menyebabkan 81 penumpang, sembilan awak pesawat, dan lima pembajak tewas. Jumlah itu belum termasuk korban yang berada di dalam menara tersebut,

2. Penumpang dan Awak Pesawat Sempat Memberi Informasi Penting

Seisi empat kapal yang dibajak, yaitu American Airlines 11, United 175, American 77, dan United 93, disebut-sebut sempat mengkomunikasikan situasi dalam pesawat, kepada keluarga dan teman mereka, lewat ponsel. Hal itu kemudian menjadi sumber informasi bagi pihak berwajib, termasuk soal sistem navigasi yang dimatikan, hingga pesawat tak terlacak lagi.

Pesawat Amerika 77 yang berangkat dari bandara Dulles Washington, dibajak di langit wilayah Indianapolis, kemudian berbalik kembali ke arah Washington. Pesawat itu ditabrakkan ke Pentagon. Penumpang pesawat yang bernama Barbara Olson, istri seorang pengacara, Ted Olson, sempat menghubungi suaminya dan mengabarkan pembajakan itu. Barbara menyebut para pembajak memiliki sekotak senjata tajam.
Pesawat yang ditumpanginya akhirnya menabrak Pentagon di pukul 09:37 waktu setempat, menewaskan total 64 orang di dalamnya. Informasi yang terkumpul dari para penumpang sesaat sebelum tabrakan menjadi salah satu sumber bagi penyidik, untuk menyusun kronologi teror tersebut.

3. Muatan Penumpang Membuat Pesawat Mudah Bermanuver

Data penyelidikan Tragedi 11 September dan laporan penerbangan yang ditemukan menunjukkan bahwa kursi pesawat American 11 hanya memuat 81 penumpang, dari kapasitas total 158. Pesawat tersebut dijadwalkan terbang dari Boston ke Los Angeles.

Pesawat United 175, dengan jalur penerbangan yang sama pun hanya memuat 56 penumpang dari total 168. Aspek ini menyebabkan beban pesawat lebih rendah. Berat dari penumpang yang rata-rata mengisi 49 persen beban penerbangan normal, berkurang hingga 33 persen.

Hal ini pun terjadi pada pesawat American 77, yang berangkat dari Los Angeles ke Washington. Di situ hanya terdapat 58 penumpang dari kapasitas total 176. Beban muatan penumpang pada United 93 pun tercatat hanya 20 persen, jauh dari angka normal 52 persen.

4. Penumpang United 93 Menggagalkan Keinginan Pembajak

Pesawat United 93 adalah satu-satunya pesawat yang tak menabrak target para teroris. Salah satu alasan yang dicatat adalah karena jumlah pembajak yang berada di pesawat tersebut, lebih sedikit. Hanya ada empat orang pembajak, karena salah satu anggota mereka, Mohamed al Kahtani, ditolak menjadi penumpang oleh pihak imigrasi Bandara Internasional Orlando, di Florida.

Laporan mencatat bahwa sesaat sebelum penumpang menyerang dan menyerbu masuk ke kokpit. Pembajak sudah lebih dulu menjatuhkan pesawat di lapangan kosong di Shanksville, Pennsylvania. Pesawat tersebut baru 20 menit mengudara, dari Washington.

5. WTC Sudah Lama jadi Target 

Gedung World Trade Center (WTC) disimpulkan menjadi lokasi yang sudah menjadi incaran para teroris, bahkan jauh sebelum Tragedi 11 September 2001. Pada 26 Februari 1993, sebuah bom mobil sempat meledak di parkir basemen gedung tersebut. Dicatat di kompilasi laporan Tragedi 11 September, bom itu menhilangkan enam nyawa dan melukai lebih dari 1.000 orang.

“Pengeboman itu mengisyaratkan tantangan dari teroris bahwa kemarahan dan kejahatan tidak punya batas,” begitu bunyi laporan tersebut. Pelaku insiden tersebut, Ramzi Yousef, sempat mengatakan bahwa ia berharap bisa membunuh 250.000 orang.

6. Wakil Presiden Cheney Sempat Minta United 93 Ditembak Jatuh

Tak lama sebelum jatuh, Wakil Presiden AS pada 2001, Dick Cheney, sempat memberi persetujuan pada militer untuk menembak jatuh pesawat United 93, sebelum mencapai Washington. Pesawat itu jatuh di pelataran Shanksville sebelum mencapai target, karena penumpangnya menyerang para pembajak.

“Wakil Presiden sempat mengirim pesawat tempur untuk mengiringi (United 93),” bunyi laporan tersebut.

Disebutkan pula bahwa prajurit Angkatan Udara AS yang mengudara, bisa jadi tak akan bisa menjangkau United 93 tepat waktu. Pejabat militer AS, diketahui secara konsisten, menyatakan bahwa jika United 93 tak jatuh, militer akan mencegahnya sampai ke Washington DC.

7. Pesawat Komersial jadi Incaran Pembajak

Pelaku bom mobil di WTC pada 1993, Ramzi Yousef, sempat merencakan serangan besar-besaran pada 12 pesawat komersial AS yang melintas Pasifik pada 1995. Yousef bekerja dengan pamannya, Khalid Sheikh Mohammed, untuk merancang plot penyerangan tersebut. Khalid sendiri akhirnya manjadi salah satu dalang Tragedi 11 September. Dicatat dalam laporan pemerintah, Yousef ditangkap di Islamabad, Pakistan, pada 7 Februari 1995, rencana yang mereka susun akhirnya tak terlaksana.

8. AS Sudah Memburu Bin Laden sebelum Tragedi 11 September

Sejumlah organisasi intelejen federal Amerika, seperti CIA, sudah mengembangkan rencana menangkap petinggi kelompok al-Qaeida, Usamah bin Laden sejak awal 1998. Rencana itu sempat terbengkalai, dan kemudian dihidupkan kembali. Mantan Penasehat Keamanan Nasional AS, Sandy Berger sempat mengungkapkan kekhawatiran terkait apa langkah pemerintah AS, jika berhasil menangkap Laden.

Meskipun begitu, Presiden Bill Clinton memerintahan serangan ke basis bin Laden di Afganishtan, usai pengeboman di Kedutaan AS di Kenya dan Tanzania, pada 8 Oktober 1998. Laden sempat lolos, namun akhirnya tewas oleh satuan khusus angkatan laut AS, NAVY SEAL, pada Mei 2011.

9. Tragedi 11 September Sempat Diendus CIA pada 1998

Pada 4 Desember 1998, satuan CIA sempat memberi ‘briefing’ singkat pada Presiden Clinton bahwa bin Laden bersiap membajak pesawat AS dan melakukan serangan. Tertulis di laporan, CIA mengatakan bahwa rencana pembajakan itu untuk dibuat untuk membebaskan Yousef, dan tahanan teroris lainnya. Namun, CIA tak memiliki informasi lebih jauh, pembajakan pun belum terjadi saat itu.

10. Arab Saudi Terkait dengan para Pelaku Tragedi 11 September

Ketika laporan penyelidikan Tragedi 11 September dipublikasi pada 2004, sebanyak 28 halaman dari laporan itu tetap dirahasiakan isinya. Isi 28 halaman yang misterius itu akhirnya dirilis Juli 2016, menunjukkan kaitan dengan Pangeran Arab Saudi Bandar, mantan duta besar Arab di AS.

Dilansir dari USA Today, laporan itu menunjukkan dugaan aliran dana dari keluarga kerajaan Arab Saudi untuk warga negara Arab yang tinggal di AS, dan dua pembajak di San Diego. Dokumen itu pun mengindikasikan dukungan ke masjid-masjid di California, yang disebut erat dengan sentiman radikalisme yang tinggi.

Disebutkan bahwa halaman itu (dulu) tidak dirilis, karena rincian di dalamnya belum dikonfirmasi atau terbukti relevan dengan serangan 11 September. Sebanyak 15 dari 19 pembajak diketahui berasal dari Arab Saudi.

USA TODAY

ADW/NDI

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY